dumbo

By Vinny Vindiani on March 21, 2019

Coming soon this March 2019, here are some fun facts you should know before you watch the live-action reimagining of Disney’s Dumbo.

 Dumbo - Payoff Poster 2

Menjadi salah satu film yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para penggemar film animasi Dumbo yang berstatus legendaris sejak perilisannya di tahun 1941, kini kamu akan kembali dipertemukan dengan kisah gajah kecil, Dumbo dalam bentuk adaptasi live-action.

Akan dirilis pada bulan Maret 2019 di seluruh bioskop Indonesia, film yang disutradarai oleh Tim Burton dan dibintangi oleh nama-nama besar Hollywood, dari Colin Farrell, Michael Keaton, Danny Devito, Eva Green, Alan Arkin, dan bintang-bintang muda, Nico Parker dan Finley Hobbins, Dumbo siap menghadirkan petualangan sang gajah kecil yang mampu terbang dengan telinga lebarnya sebagai bagian dari atraksi di Dreamland amusement park.

Penasaran menunggu seperti apa tampilan Dumbo dalam bentuk live-action dan kisah yang akan ditampilkan di film ini, berikut sejumlah fakta menarik yang patut kamu ketahui sebelum menyaksikannya di teater bulan ini.Screen Shot 2019-03-14 at 5.31.41 PM

  1. Latar belakang cerita di film Dumbo diawali dari sebuah Roll-A-Book di tahun 1939 yang ditulis oleh Helen Aberson dan Harold Pearl dalam judul Dumbo the Flying Elephant. Produksi buku ini cukup disebut misterius karena tidak pernah benar-benar ditemukan, hingga saat dimana Walt Disney membeli hak atas cerita itu dan akhirnya menerbitkannya kembali dalam versi buku biasa, sebanyak 1430 salinan.
  1. Film Dumbo merupakan feature film pertama yang dirampungkan di studio Disney Burbank yang baru dibuka pada tahun 1940, sebagai hasil keuntungan dari film animasi legendaris Snow White and the Seven Dwarfs.
  1. Jika pada film animasi aslinya, karakter hewan-hewan seperti Mrs. Jumbo dan Timothy Mouse bisa berbicara (meskipun Dumbo tidak berbicara), di film live-action arahan Tim Burton, semua binatang dibuat tidak berbicara seperti kenyataannya.

Screen Shot 2019-03-14 at 5.31.32 PM

  1. Karena karakter Dumbo, Mrs. Jumbo dan gajah-gajah lain baru ditambahkan pasca-produksi oleh visual effects department, tim produksi memudahkan proses shooting dengan penggunaan stand-in pada set sebagai lawan main para aktor. Replika layaknya asli dibuat untuk sejumlah scene, sementara kru yang memakai kostum hijau dan membawa frame berbentuk gajah menjadi bentuk demonstrasi/penempatan para gajah di film, atau penggunaan green stuffies dan elephant suits.
  1. Pada proses editing, tim visual turut menggunakan teknologi yang ada dan berkreasi lebih keras dengan menambahkan efek-efek seperti pergeseran kulit, tekukan otot, hingga goncangan lemak saat hewan-hewan melakukan pergerakan.
  1. Tim Burton dan tim produksi ingin memberikan tribute pada film animasi aslinya yang terkesan minimalis dan penuh ekspresi dengan mempelajari film noir untuk mengembangkan tampilan lingkungan yang sudah terlucuti, dan penggunaan strategi pencahayaan untuk menyeimbangkan realita dan ekspresionisme pada film ini.

Screen Shot 2019-03-14 at 5.31.49 PM

  1. Tim produksi mencoba membangun sebanyak dan seluas mungkin area Medici Bros Circus dan Dreamland untuk membuatnya terlihat begitu nyata. Bahkan kereta Casey Jr. dibuat berskala penuh dengan desain sesuai kereta pada film animasi Dumbo, hingga kelupas cat dan tampilannya yang sudah tua untuk merefleksikan keadaan sirkus dengan tepat. Sementara tangki yang menampung Miss Atlantis dibangun dengan dinding ganda berisikan tangki internal kecil yang sejajar dengan tangki besar yang diisi dengan air dan ikan untuk menciptakan ilusi berada di bawah air.

Screen Shot 2019-03-14 at 5.32.09 PM

  1. Totalitas para aktor dan aktris turut diperhitungkan. Seperti bagaimana Colin Farrell yang memang sudah tidak asing dengan berkuda, tetap berlatih bersama instruktur laso dan menunggang kuda untuk perannya sebagai mantan bintang sirkus. Sementara Nico Parker mendalami karakternya sebagai Milly yang suka segala sesuatu mengenai sains dengan mempelajari buku-buku fisikawan Marie Curie, aktor Roshan Seth yang memerankan pawang ular Premesh Singh terus membawa ular piton hidup di lehernya sepanjang film, Eva Green yang berperan sebagai aerialist Colette Marchant mengikuti proses belajar bersama aerialist Francesca Jaynes untuk melakukan koreografi nan anggun dan membuatnya lebih percaya diri dan berani melakukan beberapa scene performance di ketinggian.

Screen Shot 2019-03-14 at 5.32.18 PM

  1. Untuk menghadirkan nuansa dan penampilan sirkus yang nyata, dihadirkanlah grup sirkus dari seluruh dunia, serta pemain sirkus generasi keempat Kristian Kristof dari Hongaria untuk berbagi pengetahuannya mengenai sirkus, dan koneksi sirkus internasionalnya, yang menghasilkan kehadiran ragam pemain dari aneka budaya, termasuk pemain sulap, badut, pelempar pisau, manusia karet, pelatih anjing dan lain-lain. Trik untuk melampau hambatan bahasa, sesederhana permainan Ping-Pong yang diikuti para pemain.
  1. Menampilkan parade spektakuler di Dreamland, tim perancang kostum Colleen Atwood menciptakan lebih dari 200 kostum untuk para pemain, ditambah 500 tambahan untuk karakter kerumunan. Termasuk kostum Miss Atlantis yang dijahit tangan, berlapis hingga 100 tumpukan sisik, dengan warna hitam dan turquoise yang digunakan bergantian, dan setiap sisik diisi dengan 3-4 lapisan kain berlapis garis payet untuk kesan reflektif.

Screen Shot 2019-03-14 at 5.31.58 PM

  1. Memerankan sosok Ivan the Wonderful dan Catherine the Greater, pasangan suami istri yang merawat Milly dan Joe kala ibu kandungnya meninggal dunia, dan ayahnya belum kembali dari perang, Miguel Munoz dan Zenaida Alcalde adalah pasangan di kehidupan nyata yang juga merupakan Spanish performers yang berspesialisasi dalam physical theater, trapeze and magic.
  1. Memberikan tribut pada karakter Timothy Q. Mouse pada versi animasi, di film ini Milly dan Joe memiliki little mouse circus.
  1. Lagu ikonik “Baby Mine yang banyak dikenang oleh para penonton Dumbo versi animasi turut dihadirkan kembali di versi live-action, dimana Sharon Rooney pemeran Miss Atlantis turut menyanyikannya sambil bermain ukulele. Dalam kehidupan nyata, Sharon memang memiliki tempat khusus bagi lagu itu karena sang nenek sering menyanyikannya kala ia kecil, dan soal bermain ukulele, Sharon hanya membutuhkan waktu seminggu untuk berlatih memainkan lagu itu.