tedi

By Vinny Vindiani on April 11, 2018

Do what he loves best and be great at it, salah satu ikon Converse Indonesia #RatedOneStar Teddy Adhitya dan karier musiknya adalah kisah inspiratif bagi para pejuang mimpi.

IMG_4664

Terbilang pedatang baru dalam dunia musik tanah air, you either know everything about him or haven’t notice him. Di sinilah pertama kalinya kami berkenalan langsung dengan salah satu sosok singer and musician yang tergabung dalam #RatedOneStar by Converse Indonesia setelah sempat mengenalnya lewat lagu-lagu soulful dan album Nothing Is Real miliknya. Sebut saja single-single seperti “In Your Wonderland”, “Let Me”, “Gone” hingga “Won’t Hurt You Tonight” yang baru saja mendapat visual lewat video yang dirilisnya di akhir Maret 2018 ini.

Sempat memasuki jalur pro sebagai atlet sepak bola dan tenis, Teddy memutuskan serius menjalani karier musik. Berbekal talenta, keberanian dan restu orang tua, pria kelahiran Yogyakarta, 21 Juni 1991 inipun akhirnya nekat mengambil jalur independen untuk menyalurkan kreativitas bebas dan suaranya. Meskipun kini ia masih harus banyak berjuang untuk bereksperimen, terus menggemakan karya dan mengembangkan kariernya ke di belantara musik Indonesia, the rest is history for you to know, here with Nylon Indonesia.

IMG_4694IMG_4697

 

Hai Teddy, gimana nih kesibukannya sekarang?

Kemarin tanggal 25 Maret gue baru rilis videoklip single ke-empat, itu judulnya “Won’t Hurt You Tonight”, jadi sekarang lagi promoin itu, terus ya manggung dan lagi persiapan album kedua, sekitaran musik aja sih, di situ-situ aja.

 

Bergerak independen, gimana proses pembuatan musiknya?

Karea independen, jadi produksi sendiri, nulis sendiri, main musik juga dan bisa main semua. Cuma yang paling sering dulunya itu jadi drummer, cuma kalau sekarang manggung atau bikin lagu lebih banyak pake piano dan gitar.

 

Memang dari kecil sudah suka musikah atau gimana?

Kebetulan beruntung lahir dari keluarga yang suka musik, papa juga dulu punya band yang isinya itu satu keluarganya semua, jadi dari kecil sudah ada di dalam lingkungan yang musikal. Jadi secara nggak sadar udah kena aja gitu.

IMG_4552

Kapan memutuskan untuk going pro?

Dulu itu udah going pro, tapi sebagai atlet tennis. Terus di tahun 2008 setelah lulus SMA ke Jakarta – sebelumnya itu pindah-pindah SD itu 6 kali, SMP 3 kali, SMA 2 kali buat ikutin bokap kerja – terus ketemu sama Andre Hehanusa, jadi backing vocal dulu. Itu pertama kalinya nanyi, kebetulan om Andre itu temen kecilnya papa, jadi pas ketemu di Jakarta, disuruh, “nyanyi aja sini”, kayak dicemplungin gitu. Terus pelan-pelan akhirnya jatuh cinta sama dunia musik dan udah deh dicobain.

 

Kalau dari dunia musik ada sosok yang paling influential dan inspiratif buat kamu nggak?

Banyak banget sih, kalo secara musik gue banyak dengerin Marvin Gaye, Donny Hathaway, ya era-era Boyz II Men, Brian McKnight, terus Musiq Soulchild, Pharrell Williams, banyak banget sih. Tapi di tahun 2017 pas rilis album dan memutuskan indepen, dalam tanda kutip, bisa dibilang “pahlawan”nya itu salah satunya Tulus, Kunto Aji, maksudnya mereka mampu berdiri secara independen sebagai artis solo di Indonesia kenapa gue nggak berani nyoba. Jadi merekalah yang menginspirasi gue untuk coba dan bisa.

IMG_4700

 

Apa hal paling memorable yang mempengaruhi keadaan kamu sekarang?

Yang paling massive dan impactnya paling gede itu kerusuhan di Ambon. Gue pernah stay di Ambon dan ngalamin kerusuhan juga, jadi ya berada di tengah kerusuhan, melihat apa yang gue liat di kerusuhan, traumanya lumayan panjang, jadi secara nggak sadar dan saat itu masih kecil banget, impactnya jadi gede banget ke gue secara pembentukan personaliti kali ya. Karena memang traumanya panjang and I was only nine, umur segitu tuh yang paling nempel-nempelnya kan memorinya. Baru setelah itu pindah deh dari Ambon ke Yogyakarta.

 

Kalau untuk tantangan terbesar buat kamu dalam karier seperti apa?

Sebagai musisi independen yang pasti sekitar finance, itu pasti banget. Karena nggak ada investor, gue invest untuk harga gue sendiri, and it takes time. Butuh waktu nabung, pengorbanan macem-macem, mungkin itu yang paling berat ya. Tapi karena gue suka banget sama musik, suka bikin musik, suka manggung, jadi kayak nggak pernah merasa kerja. Nggak pernah merasa kayak ini challenge, lebih kayak main aja.

 

Nah, berarti soal financing yang terbatas justru buat makin kreatif ya?

Bukannya tidak mungkin, justru karena minim gue jadi belajar banyak banget gimana caranya ngakalin keminiman ini menjadi sebuah kemaksimalan. Malah itu yang seru, gimana ya caranya dengan apa yang gue punya sekarang, dengan budget segini, gue mau bikin begini. Itu jadi drivenya.

Pernah nih temen gue namanya Andre, kebetulan gue abis menang AMI Awards sebagai pendatang baru terbaik. Pas ketemu dia langsung, “lo tau nggak, pas gue liat lo di panggung, gue inget lo pas pertama kali mau bikin album pernah ngomong sama gue. Dre gue cuma punya Rp400.000,- mau bikin album gimana ya?” Itu jadi kayak bukan berarti nggak mungkin, dan gimana caranya kita ngakalin aja keminimalisan itu jadi sesuatu yang maskimal.

IMG_4716

How do you define yourself?

I’m weird.. and I’m proud to be weird. Gue extrovert when it comes to music, gue nggak bisa diam – nggak bisa diam as in gue nggak bisa diam gerakan, nggak bisa diam di satu tempat yang lama – dan mungkin salah satunya karena dari kecil pindah-pindah terus, jadi kebawa nggak bisa stay di satu tempat yang sama. Itu juga kenapa gue jadi suka travelling, karena kayak gue dua bulan di Jakarta tuh udah waaah, harus kemana nih. Itu berpengaruh banget, karena traveling kita ke banyak tempat yang energinya beda-beda, culturenya beda-beda, kebiasaannya beda-beda, landscapenya beda-beda, orangnya beda-beda, jadi affect banget. Itu udah cukup define belom?

Oh gue itu pecicilan, pecicilan inside out. Di depan orang dan tidak di depan orang, haha. Ada siapapun, tidak ada siapapun, gue tetep pecicilan. Kadang gue pulang ke rumah terus mikir, gue hari ini ganggu banget nggak ya? Kadang kalo misalnya nggak aktif gitu, pulang sampe rumah karena enrginya masih kebanyakan jadi nggak bisa tidur, bisa sampai jam 7 – 8 pagi, kayak gitu tuh.

 

Jadi bagian dari #RatedOneStar Converse Indonesia, kamu paling suka koleksi yang mana nih?

Gue masih punya Converse All Star dari SMP. Itu karena dulu harus pake sepatu hitam, terus gue nggak mau pake sepatu hitam yang lain. Nah, I won’t. Gue mau Converse. FYI Converse gue All Star semua sih. Nah jadi dari situ awalnya, kalo Converse tuh wajib sih, apalagi buat anak 90an, paling versatile bisa buat olahraga, jalan-jalan juga bisa, casual juga bisa, yang penting di sekolah juga nggak diomelin, hahaha.

 

Screen Shot 2018-04-11 at 3.37.31 PMScreen Shot 2018-04-11 at 3.33.15 PMScreen Shot 2018-04-11 at 3.33.44 PMScreen Shot 2018-04-11 at 3.35.15 PM

Apa arti anti-hero menurut kamu?

Anti-hero itu kayak Killmonger di Black Panther kali ya? Gimana? Kayak dia sebenernya baik, bukan orang yang jahat, cuma kebetulan dia tumbuh besar di keadaan yang seperti itu sehingga membentuk dia jadi seperti itu. Jadi definisi anti-hero menurut gue adalah Killmonger di Black Panther, hahaha. Intinya orang yang memperjuangkan idealismenya, yang menurut dia at that point bener, tapi menurut common sense orang nggak sebener itu, tapi ya nggak salah-salah juga. Sebenernya lo salah tapi lo ada benernya dan nggak affect bad things to people.

 

Then, who’s your hero?

My parents, yang terdekat yang bisa gue lihat sekarang. Karena mereka dukung gue, karena itu mereka jadi pahlawan gue. Karena mereka dari gue kecil nggak pernah dipaksakan didikte untuk melakukan apa yang gue nggak mau. Disuruh pilih, kamu mau apa, kalo memang beneran mau, tekunin sampe jago banget dan yaudah, lakuin aja. Rather than doing something yang difficult dan gue nggak suka. So do what you love and be good at it.

 

Last thing, tadi gimana ceritanya bisa sempat jadi atlet tenis?

Kenapa awalnya tenis? Eh gue dulu jadi pemain bola dulu, sampai ikutan liga Danone. Ini serius. Sampe main tournament juara 3, terus bokap pindah tugas ke daerah dimana sepak bolanya nggak bagus-bagus banget, lapangan juga kurang, adanya tenis yang bagus. Jadi ya udah akhirnya tenis, dan mungkin karena dari kecil gue olahraga suka semuanya, baske juga, golf juga, macem-macem gitu. Memang bokap juga suka ngajakin olahraga, mainan segala macem. Jadi buat gue olahraga sesuatu yang udah built-in di gue aja, harus olahraga, jadi olahraga apa aja gue coba. Pas nyoba tenis ternyata cocok, I love the game dan akhirnya jadi serius deh.