IMG_2324

By Anindya Devy on March 19, 2018

 

Trio surf rock Beach Fossils menjadi tamu istimewa di gelaran ke-8 Music Gallery.

 

Teks. Alexander Kusumapradja.

Sejak pertama kali digelar di tahun 2011 silam, Music Gallery yang dibesut oleh BSO Band Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia merupakan sebuah festival musik dan seni tahunan yang terbilang istimewa. Untuk sebuah gelaran yang notabene acara anak kampus, Music Gallery memiliki kualitas yang tak kalah keren dari festival garapan promotor profesional di luar sana. Tak hanya konsisten menyajikan deretan band dan musisi ranah indie paling keren, tiga tahun terakhir ini mereka juga memboyong nama-nama internasional untuk tampil. Di 2015 mereka mengundang band indie pop asal Prancis Tahiti 80, tahun berikutnya giliran Panama dan Last Dinosaurs yang sama-sama berasal dari Australia, dan tahun lalu secara khusus mereka mendatangkan duo electronic asal London Honne untuk penampilan perdana mereka di Indonesia.

Kini, di tahun kedelapannya, Music Gallery yang mengusung tema “Garden of Sounds” melanjutkan tradisi tersebut dengan mengundang dua nama internasional, yaitu Novo Amor dari Inggris dan Beach Fossil dari AS. Digelar pada Sabtu, 10 Maret lalu, Music Gallery tahun ini kembali diadakan di Kuningan City Jakarta dan terbagi menjadi dua stage, satu di ballroom lantai 7 dan satu di area parkir bawahnya. Keduanya punya pesona dan pengisi acara masing-masing.

Dimulai dari jam 2 siang, ballroom menjadi rumah untuk Main Stage yang menampilkan Fletch, The Broto, Eleventwelfth, Feast, Mondo Gascaro, White Shoes & The Couples Company, Sore, serta dua international headliner yang sudah disebut di atas. Jadwal yang padat berdekatan membuat kamu harus pintar mengatur waktu dan harus rela berkorban untuk memilih stay di Main Stage atau pindah ke stage bawah untuk menyaksikan penampilan dari Lightcraft, Cherry Pugs, Mantra Vutura, Heals, Jason Ranti, Bam Mastro, Danilla, OM PMR, dan The S.I.G.I.T. Bukan tanpa alasan bila stage ini diberi nama Intimate Stage, walaupun sangat kecil, lebih panas, dan sounds yang subpar dari area ballroom, namun hal itu pula yang membuat stage ini terasa lebih intim dengan jarak penonton yang sangat dekat dengan penampil dan suasana yang lebih laidback. Bonus poin untuk area Intimate Stage adalah melihat sunset di antara lanskap gedung-gedung sekitar. It’s totally #NoFilter moment.

IMG_2246

Tanpa bermaksud mengecilkan penampil lokal yang bermain di Intimate Stage, sadly kami harus memilih kembali ke area ballroom ketika jam mendekati jadwal Novo Amor dan Beach Fossils tampil di Main Stage. Untuk yang belum familiar, Novo Amor merupakan proyek musik dari Ali John Meredith-Lacey, musisi multi-instrumentalis asal Welsh yang pertama kali mencuat di tahun 2014 lewat EP pertamanya, Woodgate, NY. Didampingi band pengiring serta kolaborator utamanya, Ed Tullet, ia membawakan 10 lagu yang meliputi “Carry You”, “Colouway”, “Alps”, dan “From Gold”. Meskipun sempat diwarnai kendala teknis di lagu ketiga, Novo Amor sukses menuntaskan penampilan dengan lagu bertajuk “Terraform” yang terinspirasi dari para buruh tambang di Kawah Ijen, Banyuwangi.

 

Selesai Novo Amor, mayoritas penonton di ballroom memilih tak beranjak hingga Sore naik panggung dan menjadi penampil lokal terakhir di Main Stage sebelum akhirnya giliran Beach Fossils naik pentas. Bermula dari proyek solo seorang Dustin Payseur, Beach Fossils merupakan unit dream pop berbau surf rock yang sudah mencuri perhatian sejak muncul dengan self-titled album tahun 2010 silam. Sempat bergonta-ganti personel (termasuk Zachary Cole Smith yang sekarang lebih dikenal dengan nama DIIV), Dustin datang dengan formasi terkini yang meliputi Jack Doyle Smith dan Tommy Davidson. Dengan diskografi yang ciamik, Beach Fossils termasuk band indie yang kedatangannya sudah cukup lama dinanti di Indonesia. Beruntung, kesempatan itu berhasil diwujudkan oleh Music Gallery yang melihat peluang di antara jadwal tur Asia mereka.

IMG_2317

Sempat menunggu cukup lama untuk sound check, Beach Fossils tak mengecewakan penonton ketika membuka set mereka dengan lagu “Generational Synthetic”. Banjir reverb dan melodi gitar yang dreamy membuat beberapa orang tak sanggup menahan hasrat untuk crowdsurfing di antara padatnya penonton. Terlepas dari keluhan beberapa penonton yang merasa terganggu dengan aksi crowdsurfing, we can’t really blame them since it was a great show by the band. Gempuran hits seperti “Shallow”, “Youth”, “Vacation”, serta “Saint Ivy”, “Down the Line”, “Be Nothing” dari album terbaru Somersaults (2017) rasanya memang sayang dinikmati dengan aksi diam. Di kesempatan kali ini, mereka pun untuk pertama kalinya membawakan “Adversity” secara live meskipun lagu tersebut berasal dari album What a Pleasure yang dirilis tahun 2011.

IMG_2295

“Sleep Apnea” dan “Careless” menjadi dua lagu pamungkas untuk penampilan perdana Beach Fossils yang terasa singkat. Belum sepenuhnya Dustin dkk turun panggung, penonton sudah berteriak meminta encore yang sayangnya tak bisa dikabulkan karena kendala waktu. Tak lama keluar dari area ballroom, hujan deras pun turun seakan menutup gelaran The 8th Music Gallery yang justru membuat malam itu terasa lebih memorable. Dibuai melodi Beach Fossils yang masih terngiang + rain afterwards dengan pemandangan Jakarta dari lantai 7… What a pleasure, indeed.