RUSSELL PETERS

By Anindya Devy on March 5, 2018

 

Sebagai senior di dunia komedi, Russel Peters masih bisa membawa relevansi antara crowd-nya dengan topik yang dia bawa.

Text by David Hagler

 

Orang dari berbagai negara mengambil antrian di Hall The Kasablanka. Inspeksi lebih dekat diantara deretan umat itu, adalah wajah konyol Russell Peters terpampang pada standing banner. Salah satu ‘Tuhan’ stand up comedy ini kembali lagi ke Indonesia, kali ini dalam tajuk Deported World Tour 2018. Dengan janji materi baru, antisipasi sakit perut dan rahang rusak akibat tawa sudah tercium di udara. Lagu-lagu oldschool hip-hop mixing ala DJ Spinbad(ini namanya, saya tidak berbohong) mengisi hall sambil menunggu opening act dari komedian favorit dari David Letterman dan Jake Johannsen ini. And then come the big man himself, Russell Peters.

Russell Peters 24 September 2010 o2 Arena

Russell Peters memulai malamnya dengan permohonan maaf karena lagi mengidap flu, tetapi itu sama sekali tidak menghentikan usaha dia untuk menghibur kurang lebih 2500 penonton. Mulai dari pengalaman pertamanya melalui Endoskopi, lalu Ia pun membangun narasinya dari masa kecil dia sebagai keluarga minoritas di Kanada, hingga menyentuh masalah politik di dunia. Sebagai senior di dunia komedi, Russel Peters mampu menyelami diversitas penonton dan masih bisa membawa relevansi antara crowd-nya dengan topik yang dia bawa.

Bukan seorang Russell Peters namanya kalau tanpa acara roasting sana roasting sini. And it takes a certain amount of genius to roast Indonesian people and still get away with it. Ciri khas Russell Peters memang terletak pada bagaimana dia bisa begitu hidup dan interaktif dengan penonton melalui roasting-nya. Tapi dengan budaya baper kita, bagaimana nasib seorang Russell Peters? Tidak terjadi apa-apa. Penonton tahu apa yang mereka akan dapatkan, dan tidak ada tanda kecewa sedikitpun.

resized Russell Peters 03

Contoh seorang pemuda yang bernama Dimas. Entah memang orang ini memang being a good sport atau diam-diam sudah merencanakan siasat balas dendam, Dia mendapatkan nasib baik untuk menarik perhatian Peters. Guna bridging dari materi sebelumnya, dia menunjuk dan menanyakan nama Dimas. Dimas pun menjawab dengan datar nama dan usianya. Tapi ditafsiran telinga dan lidah Kanadanya Peters, Dimas menjadi nama yang bisa dipelesetin dengan organ vital pria. And so goes the massacre, Peters melanjutkan malam itu dengan anekdot-anekdot kehidupan konyol dengan selipan lelucon ke arah Dimas.

Lalu malam berakhir untuk Deported World Tour edisi Jakarta. Dengan menahan batuk sambil meminum air putih di panggung, Russell mengucapkan terima kasih kepada Jakarta. Dan dari gemuruh tepuk tangan dan sorakan dari penonton, tinggal menunggu waktu sebelum Russell Peters kembali lagi ke Indonesia dan mengocok perut kita.