Taken by Yana Yatsuk

By Alfian Putra on November 9, 2017

Wanita itu memainkan musik solo akustiknya di sebuah bar yang terletak di salah satu bagian Los Angeles, Amerika Serikat. Maria  orang baru di kota seluas 1.302 km2 itu, setelah sebelumnya menetap di Atlanta.

Photo by the marias. Taken by Dani Chase

Tanpa disadarinya, ada seorang pria yang tidak hanya sekedar memperhatikan, melainkan menaruh kekaguman. Josh Conway menghampiri Maria untuk memuji betapa dia benar-benar menikmati penampilan wanita baru itu. Obrolan demi obrolan bergulir di antara mereka.

Pada awal Juni 2017 atau beberapa bulan setelah pertemuan pertama itu, Conway dan Maria mengeluarkan single bertajuk “I Don’t Know You” melalui youtube di bawah nama The Marias. Mereka menyajikan musik sensualitas tinggi, paduan psikedelia, soul, dan funk. Di mana Conway bertindak sebagai produser sekaligus drum dan vokalis. Lalu Maria sebagai lead vocal dengan karakter yang kuat.

Debut single tersebut telah menyita perhatian 577, 328 viewers. Menyusul kemudian single “Dejate Llevar” yang dilepas ke youtube pada awal Oktober 2017 dan telah di simak 277, 441 viewers hingga artikel ini saya tulis. Sebuah angka yang fantastis sebenarnya, bisa didapatkan oleh band yang baru terbentuk sejak 2016 akhir. Namun langkah mereka tidak ringan, sebab LA memiliki iklim kompetisi yang kuat.

“Pasti ada beberapa rasa komunitas di LA, terutama di antara orang-orang pendatang seperti saya, yang pindah dari tempat lain dan membutuhkan komunitas. Tapi saya merasa ada daya saing dan budaya individualistic yang lebih tinggi di sini,” papar Maria dalam wawancaranya bersama Grimy Goods.

Kendati demikian, hal itu tidak terlalu menjadi perhatian The Marias. Mereka merasa hanya perlu fokus pada hal yang menjadi urusan mereka. Terbukti ketika bermain di Fonda Theatre pada Juni lalu. Mereka berhasil menghanyutkan penonton, bahkan sampai -mengutip Maria-, “banyak di antara mereka yang bercumbu. Mereka mendapatkan pertunjukan yang tight.”

Setelah dua single dilepas, pada 03 November kemarin The Marias rilis debut EP Superclean Vol.01i berisi enam lagu, dengan dua bahasa Inggris dan Spanyol. Maria kelahiran San Juan, Puerto Rico soalnya.

Bagaimana kalian bisa saling kenal dan kemudian memutuskan untuk membuat band ?

Josh: Seorang teman meminta saya untuk mengurus sound di Kibitz Room di Fairfax di sebelah Canter’s Deli. Maria sedang bermain solo akustik malam itu dan begitu dia bernyanyi, saya langsung merasa perlu bekerja dengannya. Setelah pertunjukannya selesai, saya tawarkan Maria untuk dating ke studio saya. Dia sedang down ketika itu. Dari situ kami mulai menulis dan merekam sesuatu bersama.

Maria: Dan setelah kita menulis beberapa lagu, kami langsung ingin membuat menjadikannya sesuatu. Jadi kami ajak beberapa teman dekat untuk mewujudkannya. Josh dan gitaris Jesse Perlman teman sejak usia mereka tiga tahun. Keyboardis Edward James juga teman kecilnya. Dan aku bertemu bassis Carter Lee ketika baru tiba di LA dari Atlanta, dia pemain bass terbaik yang pernah aku lihat. Lalu kita berkumpul dan The Marias tercipta. Edward mendapatkan pujian karena member nama pada band ini.

Sebelum gabung di band ini. Kalian terlibat proyek musik juga sebelumnya ?

Maria: Aku menulis dan merekam musik untuk proyek solo, dan memiliki band juga sewaktu di Atlanta.

Josh: Kalau saya berada di banyak band selama 10-12 tahun terakhir. Selain itu, saya juga memproduseri artis lain juga. Band, rapper, dan penyanyi-penulis lagu. Saya benar-benar enjoy mengerjakan musik. Juga film composing.

Maria, apa yang berbeda antara LA dan Atlanta untuk berkarir di musik ?

Atlanta lebih bersahabat, setiap orang membantu semua orang. LA sedikit berbeda dari ketika pertama kali saya di sini. Di sini lebih kompetitif ketimbang suportif.  But it quickly warmed up. Ada banyak orang dan musisi luar biasa yang saling membantu dan menginspirasi satu sama lain. Aku mencintai beberapa nama seperti Susy Sun, Wildling, Smith Allen, Dylan Meek, Josiah and the Bonnevilles, Bed Bugs, Tillie and Bad Suns.

Taken by Kyle Drew Taken by Kyle Drew

Ya, saya pernah mendengar tentang betapa ketatnya persaingan di scene music LA. Tapi sebenarnya apa yang terjadi di sana dan apa yang pernah alami ?

Maria: Sangat kompetitif seperti yang aku sebutkan sebelumnya, tapi baiknya tinggal pakai blinders saja dan hanya fokus pada yang harus kita lakukan saja, untuk musik dan artistik, Tidak mengkhawatirkan apa yang orang lain lakukan.

Josh: Seumur hidup saya tinggal di LA, sulit membandingkannya dengan kota lain. Tapi yang saya tau, ada ribuan dan ribuan band dan musisi. Sungguh luar biasa, seperti kolam pusaran raksasa dari semua hal tentang musik yang keren. It can often be tough to figure out which way is up. Dan di mana posisi anda berada dalam gambaran besar.

Kalian menggunakan dua bahasa: Inggris dan Spanyol. Apa cerita dibalik itu ?

Maria: Spanyol adalah bahasa pertamaku. Aku lahir di San Juan, Puerto Rico dan ayahku dari Spanyol. Menjelang dewasa, aku banyak mendengar musik latin dari sana, yang mana sangat berbeda. Sehingga begitu alami ketika aku bernyanyi dan menulis dalam dua bahasa itu. And I would never just do one or the other.

The-Marias-Band-Video-2 Taken by Mimi Raver

 

Dua video yang telah kalian rilis, merepresentasikan diri kalian ke dalam nuansa vintage dan glamour. Apa itu imej yang coba dibangun oleh The Marias ?

Josh: Sejujurnya, kalau kamu datang ke rumah kami pada saat tertentu, kemungkinan besar kami akan berpakaian seperti itu. Dan jika kamu berada di jalan kami, tentu kamu bisa mengenali adegan dari video tersebut. Kami tidak sedang membangun citra untuk The Marias. Mungkin kami hiasi sedikit, tapi kami benar-benar menyukai fashion. As the contrast antara dua video itu, kita hanya melakukan yang terbaik pada setiap lagu. Kemungkinan video musik kita selanjutnya akan dilakukan dengan cara yang sama. Saya suka melakukannya dengan cara ini, karena lebih menarik dan alami.

Maria: Fashion dan musik dua hal yang beriringan denganku. Aku tertarik pada pakaian vintage karena memiliki semacam sejarah dan dengan memakainya, aku seperti meneruskan ceritanya. Ada beberapa potong pakaian keren yang aku punya, yang dulunya punya Zina Bethune (aktris dan penari Hollywood) dan Fay Singer (pelukis dan seniman Malibu). Aku menghargai mereka lebih dari apapun. Dan ketika aku menggunakannya, rasanya energi kuat dan kecantikan mereka menyertaiku.

Fashion dan musik menjadi satu paketan konsep dari kalian.

Josh: Seperti yang Maria katakana, fashion dan musik sejalur. Beberapa lagu seperti sweat pants dan t-shirt. Lagu-lagu lainnya terdengar seperti 3 piece suits atau fur coats. Hal yang sama belaku juga pada semua seni: lukisan, puisi, film. Perbedaannya datang dari setiap pendengar.

Saya suka karakter vokalmu, Maria. Terdengar sensual. Apa yang menginspirasimu untuk hal itu ?

Maria: Good sex.

Conway, sebagai produser. Apa yang kamu dengarkan saat memproduksi dua lagu tersebut ?

Josh: Beberpa datang dari influences besarku, the Beach Boys, Beatles, Antonio Jobim, dan Earth Wind & Fire.

Kapan dan di mana waktu yang tepat untuk mendengarkan “I Don’t Know You” ?

Maria: Di belakang convertible Marcedes 1971. Diparkir di atas bukit yang menghadap ke laut.

Josh: Di tempat yang kamu rasa nyaman, di headphone, kapan saja.

Apa rencana terbesar kalian sekarang, selain debut album yang sudah saya tau itu ?

Josh: Kita sedang menyiapkan Supercleas Vol.2. Mau kita rilis pada musim semi tahun 2018, di samping sesekali manggung lagi. Itu prioritas kami. Setelah itu, mudah-mudahan bisa tur. Maybe hit Indonesia.

Maria: Aku akan sangat senang bermain di Indonesia.