Screen Shot 2017-11-20 at 1.38.45 PM

By Vinny Vindiani on November 20, 2017

Le Money Art Exhibition tells a story behind every money and every single thing that revolve around it, at least according to the 13 local creative minds involved.

Screen Shot 2017-11-20 at 1.38.35 PM

Berkaca dari bagaimana manusia memaknai uang dalam setiap waktu dihidupnya, timbul ide-ide dan interpretasi pribadi yang mencerminkan kata uang. Tidak jarang uang membuat seseorang lupa diri, buta dan terobsesi hingga melupakan hal yang lebih penting dalam kehidupan, sehingga komunikasi, keharmonisan, cita-cita dan passion menjadi hal yang dianggap bersifat sekunder.

Menyadari fenomena pengaruh uang dalam perjalanan hidup manusia, Monstore sebagai local brand yang mengadaptasi kreatifitas desain dan karya seni pada setiap koleksi clothing and apparel nya, serta memberikan komitmennya terhadap komunitas seniman muda lokal, bekerjasama dengan Greyhound Café menyelenggarakan ‘Le Money Art Exhibition’ pada 10 November hingga 10 Desember 2017.

Processed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 preset

Mengikutsertakan karya-karya dari seniman-seniman muda seperti Onel, Ervi, Muklay, Bernie Bartone, M S Alwi, Varsam Kurnia, Komikazer, Basith Ibrahim, Moiweirdo, Nadya Natasya, Ashworks, Prabu Perdana, dan Fostive Visual yang menampilkan karya-karyanya dari bentuk lukisan, produk hingga instalasi, Le Money diinterpretasikan dalam berbagai cerita dan hasil karya.

Processed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 preset

Seperti bagaimana kepuasan sesaat yang didapatkan dari berbelanja, memamerkannya di dunia maya dan menerima pujian yang diinterpretasikan oleh Komikazer dalam karyanya “#HasratKebendaan V.3.0”, atau potret kehidupan orang berada dengan peliharaan eksotisnya yang menandakan keberuntungan seseorang yang melebihi orang lain dengan keberadaan uang yang ditampilkan pada karya “Privilage” milik M.S. Alwi, Instalasi video “Born Kids Young, Money Money Money, Old Die” dari Fostive Visual yang menggambarkan tahapan kehidupan manusia dari lahir, dewasa dan berlimpah harta hingga menuju ajal dan lepas dari jerat harta dalam potongan video yang diputar di sembilan tv secara bersamaan, dan “For the Love of Money” milik Mimo Moiweirdo yang menggambarkan bagaimana manusia mudah “jatuh cinta” dengan uang dan terobsesi dengannya.

Processed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 preset

Ada alasan mengapa pameran seni ini diselenggarakan di Greyhound Café, Grand Indonesia. Selain karena Greyhound merupakan kafe asal Thailand yang selalu lekat dengan ragam bentuk culture and art, ada tujuan tersendiri yang menyempurnakan keputusan lokasi, yaitu pertimbangan traffic yang berjumlah besar karena kehadiran pengunjung mall, dibandingkan dengan ketertarikan mereka untuk datang langsung ke sebuah museum atau space tertentu. Setiap karya terintegrasi manis dengan berbagai sudut interior café yang bisa dinikmati secara langsung, maupun sambil bersantai bersama kerabat di kafe.

Processed with VSCO with hb2 preset

Selain art exhibition, Le Money Opening Night turut diisi dengan kehadiran para seniman-seniman yang dengan senang hati menceritakan insipirasi dibalik karyanya, serta kemeriahan music performance dari Bams yang baru saja meluncurkan single “Solo”, serta DJ Six Pratama dan DJ Herta.

Check out our video below!