Processed with VSCO with hb1 preset

By Anindya Devy on November 15, 2017

Bukan hanya para fans yang merasa beruntung dapat menyaksikan penampilan perdana Fazerdaze di Jakarta, sang penyanyi pun tak kalah sumringah.

Teks. Alexander Kusuma Praja.

Ada suatu hal yang saya rasakan setiap bertemu langsung dengan para musisi indie yang memulai karier mereka dari kamar tidur sebelum beralih ke panggung. Di video musik atau foto pers, mereka umumnya memancarkan aura effortlessly cool yang membuat mereka bersinar dan menjadi objek afeksi bagi anak-anak keren lainnya. Namun, ketika bertemu langsung, terlebih sebelum mereka tampil di atas panggung, umumnya mereka memiliki pembawaan yang approachable dan cenderung kikuk atau pemalu. In endearing way, tentu saja.

 

Begitu juga yang saya rasakan saat bertemu Amelia Murray atau yang lebih dikenal dengan nama Fazerdaze, beberapa jam sebelum gig perdananya di Jakarta yang berlangsung di Rossi Musik Fatmawati, tanggal 21 Oktober lalu dan dipromotori oleh Studiorama, Six Thirty Recordings, dan noisewhore.

Processed with VSCO with nc preset

Impresi pertama saya, gadis berusia 24 tahun ini bahkan terlihat lebih stunning in real life dengan paras dan postur yang terlihat seperti model Jepang. Wajahnya bersih dari riasan dan memang agak terlihat lelah akibat jadwal tur padat yang telah berlangsung sekitar 6 minggu di mana ia telah tampil di Eropa, Jepang, dan Asia Tenggara, tapi dengan ramah ia menunjukkan senyum semanis gula saat berkenalan dengan saya.

 

Saya bisa menangkap rasa canggung dalam gestur tubuh dan caranya menjawab pertanyaan di awal interview one on one kami. Untungnya, tak butuh waktu lama sebelum pembicaraan kami menjadi lebih cair dan relaks, khususnya ketika berbicara soal musik. “Lumayan nervous sebetulnya, karena gig Jakarta ini menjadi gig dengan penjualan tiket paling cepat habis dalam tur kali ini. Saya nervous karena saya ingin tampil sebaik mungkin agar penonton bisa menikmatinya dan tidak merasa rugi telah menghabiskan waktu, energi, dan uang mereka untuk menonton saya di atas panggung,” ungkapnya dalam bahasa Inggris beraksen Selandia Baru.

 

Memulai karier musiknya sebagai bedroom musician. Amelia mengaku masih sering takjub kalau melihat banyak orang datang ke show-nya dan bahkan ikut menyanyikan lirik yang ia tulis di kamar tidurnya di Auckland, Selandia Baru. Begitupun saat ia melihat animo fans Indonesia yang tinggi untuk konsernya. Tiket yang dibanderol seharga Rp250.000 habis terjual dalam waktu dua hari dan meskipun waktu itu jam masih menunjukkan pukul 4 sore yang artinya masih beberapa jam lagi sebelum venue dibuka dan dimulai dengan penampilan dua band lokal, Sharesprings dan Grrrl Gang, sebagai opening act, beberapa fans sudah hadir dan sabar menunggu di sekitar Rossi.

 

Selain musik dan (let’s be honest here) fisik yang dengan mudah membuat jatuh hati, saya merasa ada daya tarik lain yang membuatnya diterima dengan tangan terbuka oleh orang Indonesia. Yaitu? Trivia jika Amelia masih memiliki darah Indonesia dalam tubuhnya yang sadar atau tidak membangkitkan optimisme Good News From Indonesia bagi pecinta musik lokal. Meskipun pada faktanya, Amelia tidak pernah tinggal di Indonesia. Kedatangannya ke Jakarta kali ini memang bukan untuk pertama kali, karena ia masih punya keluarga dari pihak ibu yang tinggal di sini, namun ia adalah gadis Selandia Baru sejati.

 

“Saya kangen minum kopi Selandia Baru,” jawabnya tentang hal yang paling ia rindukan setelah sekian lama menghabiskan waktu di jalan. “Selandia Baru punya kopi-kopi yang enak. Saya juga kangen tidur di kamar saya sendiri. Tapi yang paling saya rindukan adalah pacar saya, haha!” tandasnya.

 

Dengan inspirasi musik yang umumnya berasal dari tahun 90-an seperti Pixies, Smashing Pumpkins, Slowdives, dan Mazzy Star, debut LP Fazerdaze yang bertajuk Morningside dirilis tahun ini dengan respons positif untuk nuansa dreampop bercampur shoegaze yang dibangun oleh gitar catchy dan vokalnya yang ringan. “Nama Fazerdaze sendiri sebetulnya tidak punya arti apa-apa. Waktu saya mencari nama alias untuk proyek ini, saya menuliskan beberapa calon nama di atas kertas dan ketika terlintas nama Fazerdaze saya langsung berpikir ‘This is it. That’s the name’,” ujarnya. “Saya suka bagaimana Fazerdaze dilafalkan dan ditulis, it just feels right.”

DSCF8283

Instrumen pertama yang ia pelajari adalah piano saat kecil, namun ia tak menyukainya dan baru ketika belajar main gitar ia mulai membuat musiknya sendiri. “Saya tidak ingat lagu pertama yang saya mainkan dengan gitar, antara ‘Daniel’ dari Elton John, Bic Runga yang ‘Drive’, atau Foo Fighters yang ‘Times Like These’” kenangnya. Tiga pilihan lagu yang sangat berbeda satu sama lain sebetulnya dan sama beragamnya dengan musik yang ada di playlist-nya. “Belakangan ini saya lagi mendengarkan King Krule, Frank Ocean, dan The Smiths. Sebelumnya saya tidak pernah benar-benar mendengarkan The Smiths, baru akhir-akhir saja saya mulai serius mengulik musik mereka.”

 

Diversitas dalam selera musik tersebut menurutnya turut dipengaruhi dari skena musik di sekitarnya, khususnya di Wellington di mana ia menghabiskan masa kecilnya, dan Auckland di mana ia menulis materi untuk album debutnya. “Dibandingkan skena musik Australia, skena musik di Selandia Baru mungkin lebih kecil, tapi juga tak kalah berkembang dan keren. Skenanya lebih ke alternative underground di mana orang dengan bebas membuat musik, entah itu di band, menjadi bedroom producer, atau DJ,” paparnya.

 

Saya melontarkan nama Yumi Zouma, band dream pop yang juga berasal dari Selandia Baru, dan bertanya apakah dream pop memang komoditas musik asal negara Kiwi tersebut. Dengan sumringah Amelia mengungkapkan kecintaannya pada rekan satu genrenya tersebut, namun ia tak lupa menambahkan jika Selandia Baru juga memiliki musisi folk yang patut disimak seperti Aldous Harding, Tiny Ruins, dan Nadia Reid.

DSCF8264

Kesuksesan Morningside yang berisi 10 lagu dan merupakan kelanjutan dari self-titled EP berisi 6 lagu di tahun 2014 tak lepas dari single utama “Lucky Girl” dengan video yang ia sunting sendiri. Sepintas musik dan video lagu ini terasa innocent lewat irama hangat super catchy dan singalong chorus di mana ia mendeklarasikan dirinya adalah “a lucky girl” berulang kali dengan sajian visual yang tak kalah vibrant. Namun, jika jeli mendengar dan melihat, kamu akan sadar jika lagu ini menyimpan pesan tersembunyi yang melankolis dan penuh rasa cemas.

 

“Saya menulis lagu itu setelah baru saja melewati masa yang sulit dan depresif. Saya menyelesaikan lagu itu dengan sekali duduk. Lagu ini adalah cara saya untuk move on dan mensyukuri hal-hal yang saya punya,” jelasnya tentang lagu tersebut. “Untuk videonya, saya ingin mengangkat tema-tema seperti taking things for granted dan self-sabotage lewat adegan yang menggambarkan emosi destruktif. Hal itu memang saya sengaja agar terasa kontras dengan liriknya yang bilang kalau saya adalah cewek yang beruntung. Saya ingin orang menyadari ada kesedihan dan kegelapan di balik musik pop yang ringan.”

 

“Lucky Girl” juga yang kerap menjadi lagu pamungkas dengan koor paling meriah dalam setiap konser Fazerdaze sejauh ini. Menyoal tampil live, apakah Amelia dan band pengiringnya punya ritual sebelum naik ke panggung? “Kami biasanya suka mengoper benda seperti bola untuk membangun koneksi lalu kami biasanya melakukan salaman, which is really lame, haha!” jawabnya sambil tertawa.

 

Melihat jumlah penggemar yang terus bertambah, rasanya tak akan ada yang menganggap Fazerdaze sebagai band yang lame. Respons positif atas musiknya pun telah membuahkan banyak pengalaman menarik bagi Amelia seperti bertemu dengan salah satu role model-nya, Bjӧrk, saat ia mengikuti Red Bull Music Academy di Kanada tahun lalu, atau ketika ia bertemu dengan Ansel Elgort. “Saya sempat bertemu dengannya bersama beberapa kru film. Saya tak yakin ia mendengarkan musik saya, tapi sutradaranya menyukai album saya, hehe.”

DSCF8277

Dalam show Jakarta kali ini, ia dan band pengiringnya sukses tampil gemilang membawakan 13 lagu plus satu lagu encore tanpa mengindahkan kondisi venue yang malam itu terasa begitu panas karena banyaknya penonton. Setelah Jakarta, ia akan pulang sejenak ke Selandia Baru sebelum melanjutkan tur ke Amerika Utara. Ia mengaku senang dapat kembali pulang dan berharap bisa segera punya waktu untuk membuat materi baru. Ia juga tak lupa mengungkapkan harapan untuk dapat kembali mengunjungi Jakarta di tahun depan.

 

Menutup interview ini, saya pun memintanya memberikan sedikit saran bagi mereka, terutama cewek-cewek muda, yang juga ingin terjun ke dunia musik seperti dirinya. “Yang penting berani untuk mencoba,” pesannya. “Tidak ada yang benar atau salah dalam bermusik, yang penting adalah berani memulai dan tetap bekerja keras,” simpulnya dengan, lagi-lagi, senyuman manis.