Screen Shot 2017-10-18 at 2.26.13 PM

By Vinny Vindiani on October 18, 2017

Nostalgia dan romansa klasik Rijsttafel kembali dihadirkan dalam Tugu Kunstkring Paleis.

Screen Shot 2017-10-18 at 2.26.13 PM

Diawali dengan perayaan kecil berupa tarian riang pengiring penyajian yang dilakukan sepasang pramusaji berlatarkan musik tradisional Indonesia, segera beberapa pramusaji menyusul dengan membawa mangkuk sajian, diikuti dua orang yang memanggul pikulan berisi menu-menu yang nantinya akan disajikan kepada para tamu. Melanjutkan tarian hingga sampai ke sekitar meja tamu, segera pramusaji menyajikan sejumlah menu tradisional, seperti Karedok Betawi, Nasi Uduk, Bebek Opor, Semur Lidah Sapi Betawi dengan daging yang lembut, Sate Lembut Betawi, Sayur Gambas Udang, Tempe Lombok Ijo en Taoco, Udang Goreng Kering yang terasa renyah dan gurih, Sambal Ijo Teri, Acar Kuning, Krupuk Udang, Emping, dan dessert Es Selendang Mayang yang legit.

Screen Shot 2017-10-18 at 2.26.25 PM

The Grand Rijsttafel sendiri didaulat menjadi rangkaian sajian kaya bumbu khas Indonesia dan mengangkat seni kuliner lewat keragaman rasa yang kemudian menjadi kesatuan lezat dalam sepiring sajian. Sebagian besar diisi dengan menu dari tanah Jawa, Grand Rijsttafel menjadi salah satu prosesi kebanggaan tersendiri dari Tugu Kuntskring Paleis dan semakin unik dengan tampilan para pramusaji yang berjumlah 2, 12, 22, 32 atau lebih – disesuaikan dengan jumlah sajian – yang mengenakan seragam era kolonial dan dipimpin oleh kepala pramusaji atau maître d’hotel yang memiliki pengetahuan akan seluruh menu yang tersaji untuk kemudian berbagi dengan sang tuan rumah.

Screen Shot 2017-10-18 at 2.26.45 PM

Hal yang berbeda dari Rijsttafel di Tugu Kuntskring Paleis adalah tema Rijsttafel Betawi yang sudah sulit ditemukan di masa modern seperti sekarang, dimana setiap menu mengadaptasi atmosfir khas Betawi, layaknya menu yang disajikan di Hotel des Indes, Batavia di masa lampau yang memperkenalkan Rijsttafel pada publik untuk pertama kalinya. Biasa dilakukan di area “Ruang Diponegoro” berkapasitas 85 orang, Anda bisa menikmatinya secara lebih private di the Colonial Rijsttafel Room dengan dekrorasi klasik dan dinding berisi foto-foto berbingkai tua yang menjadi penghormatan bagi Hotel des Indes, dan berkapasitas 6 hingga 8 orang.

Screen Shot 2017-10-18 at 2.25.54 PM

Selain menikmati kelezatan klasik yang sudah sulit ditemukan di restaurant-restaurant lain, kamu juga bisa berkeliling menikmati keindahan arsitektur masa lampau, serta ragam karya seni, dari lukisan, potongan tulisan, furnitur, hingga barang-barang bersejarah peninggalan Soekarno yang terletak di lantai 2 dari Tugu Kunstkring Paleis.

Kunstkring sendiri berasal dari bahasa Belanda yang berarti Lingkaran Seni, dan menunjukkan bagaimana sejak pendirianya di 17 April 1914, gedung ini menjadi pusat belajar bagi para seniman muda, serta menjadi tempat pameran dan kegiatan seni yang lambat laun semakin dikenal di kalangan pecinta seni, bahkan ragam karya milik Vincent Van Gogh, Paul Gauguin dan Pablo Picasso sempat menghampiri tempat ini. Meski sempat digunakan sebagai kantor imigrasi pada tahun 1950 hingga 1993 dan bernasib malang karena penjarahan, gedung yang menjadi saksi sejarah kolonial ini kembali dibangkitkan oleh Tugu Group dan kembali menginspirasi dan menghibur baik pecinta kuliner maupun pecinta seni dan sejarah.

Screen Shot 2017-10-18 at 2.27.16 PM

Kamu bisa melihat langsung keindahan interior yang diisi dengan nuansa warna emas, merah, hitam dan cokelat, baik lewat chandelier mewah, bingkai-bingkai emas, lukisan besar dan kecil di sepanjang dinding, hingga ruang-ruang private yang memiliki tema-tema tersendiri, termasuk Ruang Soekarno, Ruang Diponegoro, Ruang Multatuli, Ruang Raden Saleh hingga Lounge of Suzie Wong dan Balkon van Menteng.