fazerdaze-1500x1000

By Anindya Devy on October 16, 2017

Singer-songwriter asal New Zealand ini siap membuai Jakarta dengan musiknya yang dreamy.

 

 Pertama kali mendengarkan lagu berjudul “Lucky Girl”, yang dibuka dengan dentingan cantik bernuansa musim panas yang hangat, kami langsung tahu jika lagu ini akan menjadi semacam love at the first heard. Apalagi saat akhirnya mendengarkan vokal dreamy yang melantun kemudian. Beberapa kali klik di Google, kami pun menemukan fakta jika Fazerdaze ternyata adalah proyek solo dari seorang gadis manis bernama Amelia Murray. Obsesi kami berlanjut saat melihat parasnya yang dengan jelas menunjukkan jika ia berdarah Asia. Tebakan pertama kami ia keturunan Jepang, namun ternyata gadis yang lahir dan besar di New Zealand ini berdarah Indonesia. It’s definitely a girl crush for us. Album debutnya, Morningside, yang dirilis tahun ini adalah kumpulan 10 lagu dream pop dengan elemen nostalgia yang kental dan kami pun berandai-andai kapan kami bisa melihat penampilan live dari Fazerdaze. Tak perlu menunggu terlalu lama, doa kami ternyata terjawab saat Studiorama mengumumkan jika mereka akan memboyong Fazerdaze untuk pertama kalinya di Jakarta tanggal 21 Oktober nanti. Bertempat di Rossi Musik Fatmawati, kabar terakhir yang kami dengar tiket untuk Fazerdaze Live in Jakarta memang sudah sold out. But let’s just cross your fingers and pray. Untuk antisipasi lebih lanjut dan biar kamu ada bayangan yang lebih jelas, berikut adalah beberapa hal tentang Fazerdaze yang dirangkum oleh NYLON:

 

 

Amelia lahir dan dibesarkan di Wellington. Ibunya orang Indonesia dan ayahnya berdarah Eropa. “Ayah saya dibesarkan di keluarga Kristen sementara ibu saya muslim, tapi mereka bukan orang yang religius,” ungkapnya. Amelia sendiri menyebut dirinya sebagai seorang agnostik.

 

Instrumen pertama yang ia pelajari adalah piano, namun ia tidak benar-benar menyukainya dan berhenti belajar saat berumur 9 tahun dan bilang ke orangtuanya kalau ia tidak mau main musik lagi. Itu sebelum ia tertarik belajar gitar. “Saya lagi nonton TV dan melirik dari sudut mata saya gitar elektrik yang ayah saya belikan untuk kakak laki-laki saya,” kenangnya. “Saya ingat momen itu dengan jelas dan berpikir ‘saya harus bisa main gitar’ dan ternyata rasanya sangat natural. Saya minta diajari beberapa chord oleh ayah saya dan saya tidak bisa berhenti memainkannya.”

 

Ia sempat serius menekuni tenis. “Saya sempat bertanding di tingkat nasional, tapi mungkin karena di Wellington nggak ada yang benar-benar jago tenis, jadi saya bisa lolos sampai nasional, haha.” Saat orangtuanya bercerai saat ia berumur 14 tahun, Amelia menyalurkan kegelisahannya dengan menulis musik yang didorong oleh album Siamese Dream dari Smashing Pumpkins yang diberikan oleh pelatih tenisnya. “Pelatih saya orangnya asik. Dia bisa menebak kalau saya lebih tertarik pada musik dibanding olahraga.”

 

Karena di keluarganya tidak ada yang benar-benar mendengarkan musik, influens awal untuk Amelia berasal dari teman-teman sekolahnya. “Semua anak di sekolah saya pakai kaos band seperti The Beatles, The Rolling Stones, dan Led Zeppelin, pokoknya band-band yang ‘guitar music’, jadi saya biasanya melihat sebuah band di kaos seseorang, lalu pergi ke perpustakaan untuk mendengarkan band tersebut.”

 

Band pertamanya adalah all-girl band bernama The Tangle yang memainkan 60s pop dengan inspirasi dari The Beatles dan Smokefree Rockquest. Band ini tidak sempat populer tapi Amelia pertama kali belajar manggung lewat band ini. Band ini bubar ketika mereka lulus SMA. “Saya sangat kecewa waktu itu, kaya ‘Kok kalian nggak mau nerusin ini sih?’ Saya nggak ngerti. Kalau diingat, rasanya saya memang mencintai band itu lebih dari yang lainnya. Saya sangat serius dan berdedikasi di musik sejak saat itu.”

fazerdaze

Ia mulai memakai nama Fazerdaze sejak berumur 20 tahun di tahun kedua kuliahnya. “Saya merasa kurang tepat memakai nama ‘Amelia Murray’ untuk proyek musik ini,” akunya. “Saya tidak merasa terinspirasi dengan nama itu karena terdengarnya seperti singer-songwriter banget. Nggak ada yang salah dengan itu sebetulnya, tapi saya merasa banyak penyanyi lain yang lebih pantas untuk title itu, seperti Ed Sheeran misalnya! Saya merasa saya harus punya nama yang lebih ‘berwarna’. Karena itu suatu hari saya terpikir nama ‘Fazerdaze’ dan saya bilang ke flatmate saya, dia bilang nama itu keren, jadi ya sudah.”

 

Judul album debutnya, Morningside, diambil dari nama kota tempat tinggalnya di Auckland. “Saya sangat struggling saat membuat album ini. Saya sempat berpindah-pindah flats dan pekerjaan. Saya nggak punya rumah tetap dan merasa berantakan banget. Lalu saat akhirnya saya pindah ke Morningside, saya akhirnya bisa merasa lega dan settled. Saya merampungkan album ini di sana dan akhirnya menamakan album ini Morningside. Saya suka bunyinya karena saya merasa namanya terdengar optimistik dan bercahaya.”

 

Single “Lucky Girl” terdengan sangat ceria dan optimis, namun ternyata ada konteks yang lebih gelap di dalamnya. “Kalau pertama dengar, lagu itu memang terdengar bahagia, tapi saya mencoba memasukkan rasa ketidakyakinan di dalamnya. Seperti perasaan takut terlalu dekat dengan seseorang. Rasanya seperti saya mencoba meyakinkan diri saya jika saya adalah seorang ‘lucky girl’.”

 

Ia merasa starstruck saat pertama kali bertemu Bjӧrk. “Saya bertemu Bjӧrk saat bersama-sama berpartisipasi di Red Bull Music Academy di Montreal. Dia sempat memberi lecture dan beberapa sesi DJ set, lalu sempat makan siang juga bareng. Rasanya masih susah dipercaya karena saya nggak pernah nyangka saya bahkan bisa di ruangan yang sama dengan dia, apalagi hanging out bareng, it was so cool.”

E-Poster Fazerdaze Live in Jakarta - Media Partners

 

Untuk info lebih lanjut soal Fazerdaze Live in Jakarta, follow @studi0rama di Instagram.