scare dare3

By Vinny Vindiani on October 13, 2017

We scare-dare you to watch all these local horror movies with no eyes closed. And since it’s local, you know ‘they’ probably here all around you.

scare dare

Jika kamu menganggap film-film menyeramkan hanya hadir dari Hollywood, Eropa atau dari kawasan Asia saja – wink for The Ring, The Grudge, Shutter, etc, you’ve done it wrong. Kali ini rasakan sensasi nonton film seram karya anak bangsa yang ceritanya pasti lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, setting lingkungan, serta mitos dan legenda yang lebih akrab. Yes, I’m talking about all those urban legends, demons and ghosts around us here in Indonesia, kuntilanak, sundel bolong, pocong dan banyak hantu-hantu terkenal lainnya yang membuat kamu semakin merinding jika mengingat rupa seramnya dan kedekatannya secara geografis.

So, here’s a little list of local horror movies you should watch, especially in this Friday the 13th!

  1. Jelangkung (The Uninvited), 2001.

Posterjelangkung

Berawal dari rasa penasaran akan dunia mistis, empat sekawan, Ferdi (Winky Wiryawan), Gita (Melanie Aryanto), Gembol (Rony Dozer), dan Soni (Harry Pantja) mendatangi kawasan angker di Angkerbatu dan nekat bermain jelangkung di atas sebuah kuburan tanpa nama. Ignorance acts turns bad, petualangan mereka ke kawasan-kawasan angker lainnya kini berubah menjadi pengalaman menyeramkan dengan kehadiran makhluk-makhluk halus yang menakutkan, dan satu-satunya cara untuk mengakhirinya adalah mencabut kembali jelangkung yang tertinggal di Angkerbatu, and it’s not an easy journey.

Why should I watch: Jelangkung menjadi film legendaris karena perilisannya yang menjadi pembangkit kembali perfilman lokal bernuansa horror di awal tahun 2000, serta sentuhan modern yang mengikutsertakan kehidupan remaja modern, musik pop dan ketegangan yang berasal dari gerak kamera dan efek spesial.

 

  1. Tusuk Jelangkung, 2003.

Tusuk_Jelangkung

Menjadi sekuel dari Jelangkung, Tusuk Jelangkung mengambil jeda 1 tahun setelah kejadian naas yang dialami Ferdi cs dan menceritakan sekelompok muda-mudi yang saling menantang bermain jelangkung, which again, turns out bad, dengan kehadiran arwah anak kecil yang menghampiri setiap pemainnya satu-persatu dengan cara menakutkan. Tidak tahan dengan gangguan ini, Rea dan teman-temannya harus kembali ke Angkerbatu untuk mencabut boneka jelangkung yang masih tertancap dan mejadikan arwah anak kecil itu terus mengikuti mereka karena his unfinished business.

Why should I watch: Efek-efek menyeramkan yang menambah ketegangan, cool soundtracks, salah satunya the legendary Astid’s “Ratu Cahaya”, nuansa modern terkini di masanya, fresh talents, which reminds us of who’s the actor of Turah and Tiroh and where are they now?

  1. Sundelbolong, 1981.

34837471733_a48a4bf4ba_b

Menghantui kita sepanjang masa, film yang masih sering diputar di tv lokal ini tetap membuat kami ketakutan dengan nuansa mistis dan akting legendaris dari the late queen of horror, Suzanna. Menceritakan kehidupan Alisa (Suzanna) yang berakhir naas setelah harus menjalani dunia prostitusi, dan setelah berhasil keluar karena menikah dengan Hendarto (Barry Prima) malah terkena malang karena niat jahat seorang pengusaha Rudi yang memperkosanya. Tidak tahan lagi untuk hidup dengan rasa malu dan tekanan aborsi, Alisa memutuskan bunuh diri, and later on haunting all the bad people to get revenge.

Why should I watch it: It’s Suzanna and come on, we should re-watch the hysterical and iconic satay scene.

 

  1. Malam Satu Suro, 1988.

Malam_Satu_Suro_VCD

Berawal prosesi penancapan paku keramat di kepala arwah gentayangan Suketi (Suzanna) yang dihidupkan kembali oleh seorang dukun untuk dijadikan anaknya, Suketi hidup lagi layaknya manusia biasa. Hingga pertemuannya dengan Bardo (Fendi Pradana) yang membuatnya jatuh hati dan berujung pernikahan di Malam Satu Suro. Hidup bahagia dan kaya raya dengan suami dan 2 anak – (mitos kaya raya bila menikahi sundelbolong), pesaing bisnis Bardo, Werdo malah menginginkan hal buruk pada keluarganya, dan disinilah terungkap jati diri Suketi yang berakhir dengan pencabutan paku yang mengubah Suketi menjadi arwah gentayangan. Sedih meninggalkan kehidupan bahagia dan kematian salah satu anaknya karena kru Werdo membuatnya marah dan melakukan balas dendam kejam pada siapapun yang jahat padanya dan keluarganya.

 

Why should I watch: Again, it’s Suzanna. Penuh mitos dan ritual tradisional khas lokal, serta sisi drama romantis dibalik sajian horror lewat kecintaan Suketi akan suami dan keluarganya.

 

  1. Pengabdi Setan (Satan’s Slave), 1980.

Pengabdi_Setan_(1980;_obverse;_wiki)

Film legendaris yang menjadi cikal bakal film berjudul sama di tahun 2017 ini menceritakan sebuah keluarga Munarto yang kaya raya namun jauh dari agama yang harus mengalami sejumlah teror setelah meninggalnya sang ibu, Mawarti. Berisikan ilmu hitam, kematian sadis dan kehadiran sosok gaib, film ini juga memunculkan sosok sream Darminah, pengurus rumah tangga jelmaan setan yang senang mengganggu orang-orang beriman lemah untuk membunuhnya sebelum sempat bertaubat dan menjadikannya abdi setan di neraka.

Why should I watch: Film original karya Sisworo Gautama Putra ini menjadi cult classic untuk para penggemar horror, terutama karena plot film yang bernuansa kepercayaan Islam yang pada masanya dianggap jarang ada.

 

  1. Pengabdi Setan, 2017.

poster-pengabdi-setan

Terinspirasi dari film pendahulunya dan masih menagangkat nuansa serupa, film besutan Joko Anwar ini menuai sambutan positif dari penggemar film horror, terutama karena jalan cerita dan kualitas baik yang akhir-akhir ini sulit didapat dari film horror – mostly unrealistic, contain unrelated sexual act, bad writing and casting, and simply not scary – serta pengambilan gambar dan latar musik yang terus membuat kita takut di sepanjang film. Film ini diawali dengan akhir hayat sang Ibu (Ayu Laksmi) yang sakit parah dan mengakibatkan masalah finansial dari keluarga Rini (tara Basro) dan sang ayah (Bront Palarae), nenek (Elly D. Luthan) serta ketiga adiknya Tony, Bondi dan Ian.

Hanya bisa berada di kasur dan memanggil dengan membunyikan lonceng, tak lama kemudian si Ibu meninggal, and somehow the terror begins and haunting all the family members. Hal-hal seram ini memaksa Rini dan keluarga yang tidak percaya akan dunia mistis dan jauh dari agama untuk mencari jalan keluar dari teror ini lewat bantuan kiai setempat, hingga paranormal yang juga kawan dari sang nenek di masa muda. Film reboot ini disebut-sebut masuk pada timeline sebelum film aslinya layaknya sebuah prekuel, khususnya lewat beberapa menit adegan penutup di film tahun 2017 ini.

Why should I watch: It’s pure horror, sederhana dan tidak selalu berpaku pada penampakan seram, melainkan setting yang dekat dengan kehidupan siapapun, pengambilan gambar dan creepy sound effects – tanpa perlu nuansa sensual, atau komedi yang kadang tidak mengena. Best thing of all, it’s still up in the nearest theater! Oh, keep a good watch on our favorite youngest kid (wink!).

Have you watch all of these movies? Tell us which one’s your fav!