Wild Beasts

By Alexander Kusuma Praja on September 26, 2017

Band indie rock asal Inggris, Wild Beasts, mengumumkan bubar setelah 13 tahun bersama.

Kabar mengejutkan datang dari Wild Beasts, kuartet indie rock asal Inggris tersebut tadi malam lewat sebuah tweet mengumumkan jika mereka bubar secara resmi. Terbentuk sejak tahun 2014, band yang terdiri dari Hayden Thorpe, Tom Fleming, Ben Little, dan Chris Talbot ini telah menelurkan 5 full album dan 4 EP dalam perjalanan karier mereka dengan hasil yang cukup gemilang.

Referensi literatur dan puisi dalam lirik yang seringkali bertema maskulinitas dan seks yang dibawakan lewat paduan vokal falsetto dari Hayden dengan vokal baritone dari Tom yang kemudian dibalut aransemen yang kadang eksplosif kadang sensual dari Ben dan Chris membuat nama Wild Beasts menjadi salah satu band indie UK yang sukses mendapat respons positif, termasuk nominasi Mercury Prize 2010 untuk album kedua mereka, Two Dancers.

 

Dalam surat yang mereka post di Twitter, mereka menulis: “Kami berempat telah memutuskan, dengan alasan dan jalan kami masing-masing, jika ini saat yang tepat untuk meninggalkan orbit. Kami adalah penjaga dari sesuatu yang berharga bagi kami dan kami tidak ingin melihatnya berangsur-angsur lenyap seiring kami menjalani hidup.” Di akhir surat, ada kalimat “Sebelum kami pergi, kami ingin merayakannya bersama kalian” yang menjadi semacam hint untuk sebuah farewell concert.

Sebagai tribute untuk Wild Beasts, berikut adalah beberapa video wajib simak sepanjang karier mereka:

“The Devil’s Crayon”

Diambil dari album debut mereka, Limbo, Panto yang dirilis 16 Juni 2008 oleh Domino Records, single pertama dari album ini menampilkan kolaborasi vokal Hayden dan Tom dengan lirik refrain “We are so many tiny pieces” yang dibawakan dengan penuh penghayatan dalam balutan aransemen yang optimis, sekaligus membuka jalan mereka ke kesuksesan.

“All The King’s Men”

Menyusul respons positif dari album debut mereka, Wild Beasts merilis album kedua Two Dancers di tanggal 3 Agustus 2009” dengan respons yang bahkan lebih bagus lagi. “Hooting and Howling” terpilih menjadi single utama album ini, namun track yang paling stand out adalah “All The King’s Men”, sebuah lagu tribute untuk gadis-gadis Inggris yang menampilkan vokal tenor Hayden dengan aransemen groovy yang adiktif.

 

“Albatross”

Dibanding dua album sebelumnya, album ketiga Smother yang dirilis 9 Mei 2011 menampilkan bunyi synthesizer yang jauh lebih dominan dengan inspirasi yang meliputi penulis asal Brazil Clarice Lispector, komposer Steve Reich, hingga novel Frankenstein karya Mary Shelley. Uniknya, single “Albatross” dari album ini justru terdengar sangat khidmat dan minimalis. Sebuah pendewasaan arah musik yang berjalan dengan sebaiknya.

 

“Wanderlust”

Disutradarai oleh NYSU, lagu ini adalah single utama dari album keempat mereka, Present Tense yang dirilis 24 Februari 2014. Mengambil inspirasi dari bunyi elektronik musik 80 dan 90-an, album yang diproduseri oleh Leo Abrahams dan Lexxx ini terdengar jauh lebih agresif dibanding album sebelumnya..

“Get My Bang”

Album kelima sekaligus album terakhir mereka, Boy King, yang dirilis tahun lalu merupakan sebuah album konsep yang mengangkat tema self-destructive dari sikap maskulinitas di era modern. Direkam di Texas dengan bantuan produser John Congleton yang sebelumnya bekerjasama dengan St. Vincent dan Swans, album ini memiliki sounds yang lebih berat, kental akan distorsi synth, dentuman drum machine, serta solo gitar. Video untuk single “Get My Bang” disutradarai oleh Oliver Groulx di Belgrade dan menampilkan vokalis Hayden Thorpe dengan suara falsetto khasnya yang seperti paduan unik dari Justin Timberlake dan Trent Reznor.