Yudhis Lala

By Alexander Kusuma Praja on September 25, 2017

Dalam film terbarunya, sutradara eksperimental Edwin menyajikan cerita coming of age percintaan remaja tanpa meninggalkan elemen kejutan khasnya.

 Lebih dulu dikenal dengan film-film kelas festival internasional seperti Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008), Postcards From The Zoo (2012), dan Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband (2013), tahun ini sutradara kawakan Edwin kembali dengan karya terbarunya, Posesif, yang juga merupakan film panjang pertamanya yang akan dirilis di bioskop mainstream dalam negeri.

Posesif (dok_ palari films)

Posesif bercerita tentang seorang gadis bernama Lala (Putri Marino), seorang atlet loncat indah yang hidupnya jungkir balik setelah menemukan cinta pertamanya, Yudhis (Adipati Dolken), murid baru di sekolahnya. Janji setia Lala untuk Yudhis malah jadi jebakan, karena cinta Yudhis yang awalnya sederhana dan melindungi ternyata rumit dan berbahaya. Lala pun mengambang dalam pertanyaan: apa artinya cinta? Apakah seperti loncat indah yang bila gagal, harus ia coba lagi atas nama kesetiaan? Ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam kesia-siaan?

 

Posesif merupakan karya perdana Palari Films, sebuah rumah produksi yang ingin menghasilkan film-film berkualitas untuk pasar Indonesia dan internasional, serta diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, atau biasa dipanggil Eddy. Film ini juga merupakan sebuah kolaborasi unik antara Edwin dengan penulis cerita Gina S Noer. Gina sendiri sudah dikenal oleh penonton Indonesia. Sebagai penulis skenario, hasil karyanya telah disaksikan jutaan penonton lewat film-film box office seperti Habibie Ainun (2012) dan Rudy Habibie (2016).

 

Kegelisahan remaja menjadi daya tarik tersendiri bagi Meiske yang sebelumnya sudah banyak memproduseri film-film Edwin. Saat menjalani riset untuk Posesif, perempuan yang turut memproduseri The Fox Exploits the Tiger’s Might (Lucky Kuswandi, 2015), menemukan fenomena pacaran di mana, seakan-akan, pacar berhak mengontrol pasangannya sepenuhnya. “Banyak dari mereka merasa bahwa ‘rasa kepemilikan’ adalah aktualisasi cinta,” ungkap Meiske.

 

Sementara itu Eddy, yang sebelumnya turut memproduseri Athirah pemenang Film Terbaik FFI 2016, tumbuh dengan menonton banyak film coming of age, yang memotret kenaifan dan kebebasan remaja. “Saya tertantang untuk mengangkat isu serius yang sangat relevan dan dekat dengan remaja, tapi tetap menghibur. Inilah yang kami coba bawa ke pasar remaja Indonesia lewat film Posesif yang ber-genre Romance Suspense,” ujarnya.

 

Bagi Edwin, fenomena ini adalah salah satu dari banyak sisi kehidupan remaja yang bisa dieksplorasi dan dikemas dalam bentuk film. Ia ingin memotret kisah asmara remaja lewat tokoh Lala dan Yudhis yang salah mengartikan cinta pertama. “Hubungan yang posesif disalahsangkakan sebagai cinta sejati,” jelas Edwin. “Ada yang punya obsesi untuk ‘ngebenerin’ pasangannya sehingga selalu memaafkan sebagai tanda kesetiaan,” tambah Meiske.

 

Film yang turut didukung oleh dua aktor peraih Piala Citra yaitu Cut Mini (Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2016 untuk Athirah) dan Yayu Unru (Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI 2014 untuk Tabula Rasa) ini akan ditayangkan di bioskop pada bulan Oktober 2018 nanti, untuk sekarang kita bisa menyaksikan dulu official trailer dari film ini: