ilyas

By Vinny Vindiani on February 26, 2017

“The Rebel”

 

Dikenal sebagai vokalis dari band yang digawangi oleh Kevin Aprilio yang baru saja menyelesaikan pembuatan album pertamanya dan album ketiga bersama Vierratale, Ilyas memang selalu tertarik dengan dunia musik, bahkan sedari ia belum bisa berjalan. Kontrak kerjasamanya dengan Kevin and the Red Rose menandakan karier professionalnya di dunia musik dalam negeri.

 

“Kalau udah pulang ke Bandung, nge-geek dan mager bisa nggak keluar rumah seminggu lebih. Perpaduan antara Dota dan Wi-Fi kenceng, juga anime dan film series lainnya adalah bahaya laten, guys. Padahal jarang banget bisa pulang dan harusnya day off di Bandung bisa dipakai lebih banyak untuk bersosialisasi dan hangout bareng anak-anak,” ujarnya akan guilty pleasure pribadinya. Ya, ia memang mengaku butuh adaptasi, setelah kepindahannya dari Bandung ke Jakarta untuk fokus berkarier bersama Kevin And The Red Rose. “It never crossed my mind before, kalau saya bakalan tinggal dan hidup di Jakarta, saya bukan tipikal orang yang suka keramaian dan nggak suka ke mall juga. Cuaca di sini lebih panas dari Bandung, bulan pertama saya di Jakarta abis deh sama sakit-sakitan. But I already get used to it.”

Soal konsep, mahasiswa Antropologi, Universitas Padjajaran, Bandung ini mengungkapkan warna tersendiri yang menjadi nilai lebih grup bandnya, “Menyatukan musik-musik romantis yang biasanya dijadikan OST drama-drama Korea dan Asia lainnya. Jadi warna musiknya ‘sweet and light’ banget di telinga pendengar, ditambah lagi paduan dari banyak strings dan juga sentuhan khas piano Kevin Aprilio yang bisa bikin kamu masuk ke ‘love zone’ in the blink of an eye. The best thing about this band is ‘none of us can dance!’ and I’m glad we dont have to do that, beside we’re not a boyband anyway. Oh iya, album pertama kita juga udah rilis lho dan bisa kalian dapat di iTunes, Spotify, juga ‘Toko Ayam Pak Tua’ kesayanganmu.”

Penampilan Ilyas yang terlihat energic, rebel, dan agak messy dengan rambut gondrong yang sudah dipanjangkannya selepas lulus SMA tidak mengartikan personality sebenarnya, ia tetap ramah, jenaka, dan ternyata mengaku mudah sentimental. “Sebenarnya saya adalah orang yang sangat mudah tersentuh dan gampang nangis, nonton audisi X-Factor aja saya bisa merinding berkaca-kaca apalagi hal-hal yang berbau orang tua dan ibu, bisa bercucuran air mata deh,” ungkap pria kelahiran Bandung, 23 Desember 1994 yang juga mengaku selalu dianggap rebel dan kritis sejak kecil. “Pernah pas upacara di SMA saya nekat maju ke depan barisan dan ngajak debat kepala sekolah yang bilang kalau saya adalah salah satu anak yang tidak mencerminkan perilaku siswa baik dan terpelajar hanya karena poni saya yang sedikit melebihi dahi. Di situ saya menjelaskan bahwa penampilan tidak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan siswa dan pentingnya kebebasan berekspresi dalam pencarian jati diri sang anak. Akhirnya setelah sedikit ‘misi bunuh diri’ itu, sekolah melonggarkan peraturan berpenampilan dengan syarat tingkat indeks prestasi siswa di atas 7.5,” kenangnya. Selain kesibukannya bersama band barunya dan ketertarikannya akan dunia bisnis fashion, kuliner, dan beberapa project yang sedang ia rampungkan, ada satu hal yang sudah ditargetkannya, “Wisuda ya Allah, amin, amin!”