vira

By Vinny Vindiani on February 20, 2017

The art prodigy

- Selalu ada masa-masa di mana kamu membutuhkan ketenangan, sendiri di dalam kamar, bertemankan remang cahaya dan suara musik yang mengalun lembut. Hal ini persis yang ada di benak saya bila mendengarkan lagu milik Vira Talisa, “Walking Back Home”, a good solitude. – 

         “Tidak sengaja seperti lagu-lagu yang lain. Cuma tulisan yang tersimpan lama di buku lalu akhirnya direkam dan saya jadikan album kecil. Lalu saya pilih lagu itu menjadi single karena itu lagu pertama yang saya tulis,” ungkapnya mengenai proses pembuatan first single-nya. Perilisan debut EP di bawah Orange Cliff Records menjadi salah satu rekognisi awal dari berbagai talentanya, seperti pembuatan buku fotografi dari salah satu publisher asal Yogyakarta, proyek fotografi dan ilustrasi, rencana pameran tunggal self-curated, dan cita-cita mengkurasi pameran berskala besar serta sebuah LP miliknya sendiri.

Dalam bermusik, penggemar Brian Wilson dan Françoise Hardy ini mengaku hobi bermain piano sejak pertama kali sang ayah membelikannya piano mainan dan terus melanjutkannya dengan bantuan les piano serta belajar alat musik lain seperti gitar, biola, keyboard, accordion, hingga ukulele, dan semua itu menjadikan gaya bermusiknya terdengar khas, “Gaya bermusik saya bisa dibilang musik kamar kali ya. Menurut saya main musik itu paling khusyuk di kamar sendirian terus megang gitar dan saya ingin membawa suasana seperti itu setiap kali manggung.”

Tidak hanya bernyaman-nyaman singgah di dunia musik yang kini sedang membesarkan namanya, penikmat karya seni buatan Joan Miro, Wassily Kandinsky, Amedeo Modigliani ini juga aktif mengembangkan talentanya di bidang seni lukis. Musik dan seni dijadikannya dua teman dekat yang lekas memberikan solusi dan ide-ide seru untuk menyemangatinya sehari-hari. Selayaknya ketertarikannya akan teknik blind drawing yang banyak mengisi karya-karyanya. “Gaya ilustrasi saya terinspirasi dari teknik blind-drawing di mana yang menggambar tidak melihat kertas pada saat menggambar. Saya senang dengan elemen surprise yang selalu berubah-ubah di tiap gambar, tapi karakter yang muncul selalu kuat dan konsisten.”

Perempuan yang menjadikan sang ayah dan ibu sebagai role model karena ajaran mereka untuk jujur menjadi diri sendiri dan menekuni hal yang ia sukai ini juga menyimpan masih banyak lagi hal yang bisa ia eksplorasi. “Banyak banget! Arsitektur, perkebunan, kuliner, tarian tango, martial art, kehidupan bawah laut, dan banyak lagi,” ujarnya. Dari semua hal yang saya yakin akan segera mengisi penuh waktu di kesehariannya, satu hal yang menjadi tantangan terbesar baginya, it’s real and it’s what we’ve been facing all along, “Jalanan Jakarta. Nantangin banget.”