fathia

By Vinny Vindiani on February 22, 2017

“The Busy Bee”

 

“I feel like I’m the busiest I’ve ever been. Juggling between trying to graduate, having abundant meetings with clients, recording and editing YouTube videos, having several gigs with my band Reality Club, being a speaker in talk shows and workshops, trying to keep up with my social life, and also being a mom to my sister and cat,” ungkap perempuan yang dikenal dengan video-video buatannya sebagai YouTube Content Creator di channel Fathia Izzati yang sudah banyak mengundang viewers dan subscribers dari dalam dan luar negeri, serta bekerja sama dengan berbagai brand dalam pembuatan konten video.

 

Mengaku menjalankan kegiatan vlogging tanpa planning tertentu dan mengalir begitu saja dengan keinginannya mendokumentasikan kehidupannya, Fathia lebih mendeskripsikan dirinya sebagai content creator dibanding vlogger, karena video-video unggahannya selalu punya tema tersendiri yang baginya lebih menarik dibandingkan sekadar video keseharian saja. Namun meski berjalan begitu saja, penikmat video-video dari Casey Neistat, Vox, Communitychannel, dan Grace Helbig ini juga tetap menganggap kegiatannya ini sebagai challenging thing. “Hal yang paling menantang adalah menyeimbangkan antara moral dan intuisi kreatif saya dengan apa yang diinginkan viewers dan pasar. Sulit untuk memilih apa yang ingin kamu expose, karena kamu harus mempertanggungjawabkannya.”

Selain tema-tema unik dari setiap videonya, seperti saat ia menirukan logat orang-orang dari berbagai negara saat berbahasa Inggris, Fathia juga mendapatkan nilai plus dengan konten yang dibawakannya dengan bahasa Inggris yang fasih dan tentunya menguntungkan bagi viewers non-local yang juga ingin menonton videonya. Sejak menonton video dirinya membawakan banyak logat bahasa, saya pun menjadi penasaran jika saja ia benar-benar menguasai berbagai bahasa, and here’s what she told us, “Saya mulai benar-benar mempelajari bahasa Inggris karena saya sempat tinggal di Kanada dan saya dipaksa belajar bahasa, jika tidak saya tidak akan bisa beradaptasi dengan lingkungan di mana saya tinggal. Saya hanya bisa fasih berbahasa Inggris, bahasa Indonesia, pero yo puedo hablar en español un poco, (and I can speak a little Spanish).”

Selain popularitasnya di YouTube, penggemar buku Catcher in the Rye dan karya-karya musikalitas dalam album Vira Talisa’s EP, Kid A by Radiohead dan Alvvays by Alvvays ini juga sedang memfokuskan diri untuk perilisan EP band-nya, Reality Club. Ia pun menceritakan long time relationship-nya dengan musik, seperti bagaimana ia dan saudara lelakinya dulu sering menirukan The White Stripes dengan menggunakan sapu sebagai gitar. “I’ve always wanted to be a band, or become a Broadway singer, or anything in the music industry. My parents introduced me to music since I was very small, I took piano lessons and was in a Royal Conservatory for piano,” ungkapnya.

Dari semua kesibukannya saat ini, perempuan yang mengidolakan sang ayah karena kerja kerasnya membangun karier dari dasar hingga sukses ini masih memiliki ketertarikan akan dunia fashion yang baginya bagaikan love-hate relationship, desain, hingga keinginannya membuat video yang lebih serius, seperti short movies. Dan untuk masalah rencana selanjutnya, she’s eagerly said, “To conquer the world. I’m not kidding.”