Teaser1_Header

By Alexander Kusuma Praja on January 16, 2017

Natasha Gabriella Tontey. Foto oleh Kendra Ahimsa.

Natasha Gabriella Tontey, seniman muda Indonesia yang termasuk dalam daftar 30 Young Artist Under 30 di edisi Art kami bulan November lalu, sudah dikenal lewat karya-karya eksperimental yang meliputi berbagai medium, dari mulai fotografi, desain grafis, performance art, hingga video musik dengan konsep yang tak hanya menarik secara visual tapi juga konteks. Witty and whimsically sinister, karya seniman yang membagi waktunya antara Jakarta dan Jogja ini pun sudah tampil di ranah internasional, salah satunya ketika ia melakukan residensi di Yokohama, Jepang tahun 2015 lalu.

 

Di sana, ia meneliti tentang cerita-cerita seram setempat dan menyajikannya sebagai artwork dalam sebuah toko konseptual. Bertajuk Little Shop of Horrors (atau Toko Kecil Penuh Petaka), proyek yang ditampilkan dalam Koganecho Bazaar 2015 tersebut berupaya mengeksplor konsep ketakutan menjadi sebuah komoditas di mana setiap produk di dalam toko tersebut dikonstruksi dari percakapan sehari-hari tentang mitos-mitos angker yang masih hidup di kota besar sekalipun.

 

Akhir pekan ini (Sabtu, 21 Januari 2017), Tontey akan membuka kembali toko kecilnya ini di Jakarta, tepatnya di Footurama – Como Park, Kemang Timur. This time, Tontey punya menu khusus tersendiri, yaitu sebuah performance art berupa makan malam bertajuk “Fresh Flesh Feast” atau “Makan Mayit” dan capsule collaboration bersama FFF.

 

An attempt to interrupt a space for agreement and disagreement through fiction upon the socially banned manner of cannibalism and necrophiliac eruptions in the modern days. With a question whether the psychopathic nature contains in all of all human beings,” ungkapnya tentang konsep yang akan ia usung. Selain itu, jika di tahun 2015 ia mengajak grup musik Sonotanotanpenz dari Fukuoka untuk mengubah gagasannya menjadi musical performance, kali ini ia akan mengajak Ken Jenie dan Dipha Barus sebagai tamu khusus.

 

Little Shop of Horrors akan dibuka tanggal 21 Januari 2017 di jam 5 sore dan performative dinner “Fresh Flesh Feast” atau “Makan Mayit” akan digelar pada hari Sabtu 28 Januari 2017 pukul 7 malam dan terbatas hanya untuk 13 partisipan saja. A very special evening, at the limit of good taste: bespoke dinner as the approach to the cultural politics of cannibalism. The dishes will be served in frightful names. Tiket untuk “Fresh Flesh Feast” akan tersedia saat opening day Sabtu nanti.

LogoLittleShopofHorrors-02