Untitled-1 copy

By webdev on December 13, 2016

LAHIR DALAM KELUARGA YANG ERAT KAITANNYA DENGAN DUNIA ENTERTAINMENT DAN TUMBUH BESAR DI BAWAH BAYANG-BAYANG SANG AYAH, AXEL MATTHEW THOMAS SIAP MENCURI SPOTLIGHT DENGAN CARANYA SENDIRI, BUKAN SEKEDAR ANAK ARTIS.

Screen Shot 2016-12-13 at 2.38.21 PM

Teks: Fariz Syahir, Fotografi: Dani Huda, Stylist: Rezaindra O. Asst. Stylist: Priscilla Nauli, Grooming: Ranggi Pratiwi (The A Team Management), Lokasi: Kolbano Photo Lab

Siapa tidak tahu Jeremy Thomas? Nama yang sudah dikenal luas dengan membintangi beberapa judul sinetron dan film di tanah air ini bisa dibilang memang dilahirkan untuk menjadi seorang bintang. Ia memperoleh popularitas yang cukup tinggi berkat kemampuannya mentransformasi diri menjadi karakter yang sedang dimainkan. Ternyata, hal tersebut memang merupakan bagian dari DNA yang secara natural mengalir di darahnya dan diwariksan kepada sang anak Axel Matthew Thomas.

Siang itu matahari memilih untuk menyembunyikan sinarnya dibalik awan dan hujan pun akhirnya turun di Kolbano Photo Lab, tempat dimana sesi pemotretan berlangsung. Meski dengan cuaca kurang mendukung, rasa penasaran kami terhadap sosok anak sang Jeremy Thomas menjadi bahan bakar untuk tetap bernatusias. Tidak lama menunggu, sesosok pria dengan rambut dicat pirang, tampang serius dan penampilan yang santai muncul dari balik pintu. Sontak ia menyapa dan memperkenalkan diri kepada seluruh tim redaksi. Tanpa waktu jeda, kami pun langsung mempersiapkan pakaian dan set pemotretan. Usai berganti kostum, pria yang akrab dipanggil Matthew ini mengambil posisi depan kamera. Walaupun sempat mengaku sedikit canggung, dengan arahan yang tidak begitu banyak, Matthew secara natural menawarkan beragam opsi pose dan ekspresi. Hal tesebut membentuk sebuah persepi di kepala saya yang menyatakan bahwa pria kelahiran Bogor, 29 Juli 1997 ini seolah-olah memang dilahirkan untuk melakukan dan menguasai sesuatu dengan mudah. Di sela-sela pemotretan obrolan pun dimulai. Pembawaannya yang dingin ternyata tidak membuat dirinya menjadi sosok arogan, bahkan saya tidak perlu repot-repot mencairkan suasana untuk menggali cerita dibalik perjalanannya sebagai seorang anak artis.

Screen Shot 2016-12-13 at 2.36.26 PM

Diawali dengan topik seputar kecintaannya terhadap seni peran, saya menginginkan cerita yang utuh bagaimana ia terjun kedalam dunia perfilman Indonesia. Semuanya berawal pada saat Matthew masih berumur 13 tahun. Merasa termotivasi oleh sang ayah, Matthew memutuskan untuk menantang dirinya mengikuti casting. Menjadi anak dari seorang aktor legendaris ternyata tidak membawa tiket fast track yang memudahkan dirinya untuk mendapatkan setiap kesempatan. Pengalaman ditolak saat mengikuti casting sering ia alami hingga pada akhirnya pesona Matthew ditemukan dan peran dalam sinetron “Yang Masih Dibawah Umur” adalah debut pertamanya. “Tau dapet peran itu gue langsung latihan sama bokap. Waktu itu, gue ada di suatu gedung, gue disuruh akting, teriak-teriak di depan perempuan yang ceritanya gue idam-idamkan depan bokap gue dan kalau hasilnya jelek, gue harus ulang lagi sampai penjiwaannya dapet,” kenangnya sembari memutarkan bola mata ke sudut kiri atas, mengingat setiap detail apa saja yang terjadi saat itu. Dengan bantuan sang ayah yang selalu mengevaluasi dan mengomentari kemampuannya bermain peran, tawaran untuk memainkan film dan sinetron akhirnya bermunculan di hadapan Matthew. Dari seluruh tokoh yang pernah ia lakoni, ternyata peran sebagai Agasi dalam sinetron pertamanya diakui sebagai yang paling sulit. “That role was most challenging. Karena karakternya itu sangat bertolak berlakang sama diri gue dan bisa dibilang ada diluar comfort zone. But I still enjoyed it,” bebernya. Dari percakapan tersebut saya memahami bahwa pria dihadapan saya ini adalah sosok yang tidak suka berjalan di tempat dan memilih untuk mencoba segala hal di luar batas nyaman. Disamping hobi berakting dan dorongan dari kedua orang tua, ternyata serial “Tetangga Masa Gitu” yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi swasta adalah hal lain yang berhasil membulatkan tekadnya untuk menekuni dunia seni peran. Pada tahun 2014, putra sulung Jeremy Thomas ini memutuskan cuti sejenak dari layar kaca untuk menggali ilmu dalam jurusan Business Management di Shoreline Community College, Seattle, Amerika Serikat. Sepulangnya kembali ke Indonesia, Matthew mendapatkan kesempatan untuk bermain dalam porsi yang lebih besar, layar lebar, dalam film Marmut Merah Jambu hasil garapan Raditya Dika. Dalam tiga tahun ke belakang, kemampuan berlakon Matthew semakin sering dipertontonkan. Sederet judul serial di layar kaca dan film laya lebar pun telah dijajalnya. Mulai dari memerankan sosok pemain bola dalam serial “Tendangan dari Langit” (2013), menjadi zombie dalam film “Kampung Zombie” (2015), hingga ambil bagian sebagai peran antagonis dalam serial “Love is Music” (2016). Obrolan sempat terpotong disaat Matthew harus kembali bersiap menunjukkan kemampuannya di depan kamera.

Screen Shot 2016-12-13 at 2.34.42 PM

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, setelah sang fotogrfer meneriakan “it’s a wrap!”, muncul lah kesempatan bagi saya untuk kembali berbincang lebih dalam. “Bagaimana sih rasanya menjadi seorang anak artis?”, dengan penuh penasaran saya melontarkan pertanyaan tersebut. Ditemani rokok putih, Matthew melanjutkan kisahnya. “Punya bokap seorang artis jujur menjadi sebuah kebanggan. Tapi menjadi seorang anak artis ga pernah buat gue merasa lebih spesial. Sama seperti anak-anak lainnya gue harus show good image to other people, dan hal itu emang harus dilakukan siapapun entah itu anak artis atau bukan,” jawabnya tanpa harus berpikir panjang. Meski belum terbukti secara empiris, saya selalu beranggapan bahwa tumbuh besar dibawah bayang-bayang sang ayah dengan nama yang sudah besar merupakan sesuatu yang sulit. Namun, buru-buru ia mematahkan pernyataan tersebut. Pria yang mendeskripsikan dirinya sebagai sosok yang sulit untuk tersenyum ini tidak pernah merasa terbebani dengan fakta bahwa dirinya adalah seorang anak Jeremy Thomas. Ia memilih untuk selalu bersyukur, dengan nama sang ayah yang sudah sebesar itu, Matthew merasa akan selalu terpacu untuk menjadi sosok yang lebih baik. Dari skala 1-10, angka 10 ia pilih untuk menggambarkan kedekatannya dengan sang ayah. Bahkan, ia menjadikan sosok ayah sebagai role model yang merupakan sumber motivasi terbaik dalam hidupnya. “I consider my father as my best friend and role model. I always wanted to be like him, a cool dad with bunch of skills and achievements.” bebernya menjelaskan. Kedekatan Matthew dan Jeremy Thomas juga terlihat dari caranya mereka berbagi tattoo dengan desain serupa. Pada umur 15 tahun Matthew memutuskan untuk menghiasi tubuhnya dengan goresan tinta bergambarkan makhluk Barong pada bagian dada kanan yang ternyata juga dimiliki oleh sang ayah. Tidak hanya itu, mengaku keranjingan dengan seni melukis tubuh, Matthew menambahkan tattoo bergambar wajah Valerie Thomas yang sengaja dibuat sejajar dengan tattoo berbentuk Ganesha pada lengan kiri yang diyakini dapat mengirimkan keberuntungan bagi adik semata wayangnya.

 

Setelah disibukan dengan hobinya untuk berakting dan menjadi bintang tamu dalam ajang Miss Celebrity Indonesia 2016, belum lama ini Matthew mencoba mengimplementasikan pengetahuannya dalam dunia bisnis dengan menginisiasi sebuah clothing line yang diberikan nama sesuai namanya sendiri, “Axel Matthew”. Brand tersebut sengaja ia dirikan untuk menyalurkan hobinya dalam mendesain pakaian. Sebagai warna baru dalam New Generation, Matthew memiliki pendapat tersendiri mengenai cara berpakaian orang-orang yang terlahir dalam generasi ini. “Gue ngeliat bahwa New Generation adalah generasi yang ingin mencoba banyak hal dan sulit bagi gue untuk menggeneralisasikan gaya mereka melalui satu istilah. Akan tetapi DNA dari generasi ini bisa dibilang adalah orang-orang yang suka bereksperimen dan mengenakan sesuatu yang sangat diluar batas wajarujarnya. Kesuksesan Matthew dapat dijadikan sebuah sampel sempurna yang menunjukkan bahwa hobi sanggup berkembang menjadi sebuah profesi. Bermodalkan hobi berakting dan mendesain, kini ia telah mencapai salah satu impiannya untuk menjadi seorang aktor dan membuka clothing line sendiri. “I am a person who always wanted to try and experience a lot of things. Mumpung masih umur segini sikat aja deh segalanya, coba segalanya, karena disitu lu akan menemukan ingin jadi apa lu sebenernya hahaha,” ujarnya dengan ketawa kecil memberikan saran bagi para New Generation. “Dan untuk mendapatkan apa yang lo mau, you need to focus on your goal and always be motivated,” sambungnya. Kini, Matthew memilih untuk fokus dalam meluncurkan koleksi terbaru dan mengembangkan brand miliknya seraya terus mengejar mimpi tergilanya untuk menjadi seorang pemain sepak bola ternama.

Screen Shot 2016-12-13 at 2.39.45 PM

Secara spontan, saya menyodorkan deretan one shot Q&A berhubungan dengan kecintaannya bertualang ke luar negeri. Berikut petikannya.

 

WHAT IS ON YOUR BUCKET LIST?

Maldives.

 

TELL US YOUR IDEAL KIND OF HOLIDAY!

Meski biasanya gue pergi ke luar negeri sendirian, berpergian dengan pacar dan sahabat adalah yang terbaik.

 

TELL US ONE BEST DESTINATION YOU’VE EVER VISITED WITH YOUR DAD!

London, karena itu satu-satunya desitnasi yang gue kunjungi bareng dia.

 

PICK ONE ACTRESS THAT YOU WOULD LIKE HER TO BE YOUR TRAVELING COMPANION!

Margot Robbie, because she’s so beautiful.

 

WHAT DO YOU LEARN FROM TRAVELING?

Dengan traveling, lo bisa ketemu banyak teman baru, lo bisa jadi lebih mandiri dan tau gimana caranya menolong diri lo sendiri.