022-EmilySoto_bw copy

By webdev on January 13, 2016

Just like a duck to a water, hanya butuh waktu singkat bagi Emily Soto untuk menemukan gaya artistik tersendiri dalam fotografi sejak pertama kali bereksperimen dengan kamera sekitar lima tahun lalu. The rest is history.

Oleh: Alexander Kusuma Praja.
Foto oleh:Oscar May.

Sebagai salah satu fotografer New York City yang paling dicari saat ini, Emily Soto sebetulnya tidak pernah berencana menjadi fotografer profesional seperti sekarang. Tumbuh besar di sebuah kota kecil di North Carolina, ketertarikan Emily pada fotografi bermula ketika di akhir 2010 silam belajar basic photography lewat suaminya. Tak lama, seorang teman yang baru terjun di modeling menjadi model pertama bagi Emily dan dari titik itu lah, Emily yang sebelumnya bekerja di bidang kesehatan makin tertarik pada fotografi. Tanpa kontak dan pengetahuan terhadap industri fashion, ia mengandalkan Flickr dan social media untuk inspirasi dan menunjukkan karyanya, sampai akhirnya tawaran pekerjaan pun mulai berdatangan.

“Pekerjaan profesional pertama saya adalah memotret katalog untuk sebuah butik di Southern California. Saya memotret sekitar 200 potong pakaian dalam satu hari, it was a lot of work! Butik tersebut menemukan saya lewat Facebook,” kenangnya. “Saya telah berkembang jauh dalam segala hal dari saat itu, pada permulaannya yang saya cari adalah pengalaman untuk mengembangkan gaya saya. Saya telah mencoba berbagai macam teknik sebelum menemukan gaya yang sesuai dengan apa yang ingin saya tampilkan.” Di tahun 2012, setelah menemukan personal aesthetic yang meliputi warna-warna soft dengan pencahayaan natural dengan perempuan sebagai obyek favoritnya, Emily memutuskan menjadi fotografer full-time dan pindah ke New York City untuk merintis karier. “I love it here, kota ini penuh inspirasi dan saya selalu bertemu orang-orang baru. Rasanya luar biasa untuk tinggal dan bekerja di kota yang selalu dipenuhi energi dan inspirasi. Saya menemukan inspirasi dari jalan-jalan, majalah, atau sekadar jalan kaki di jalanan NYC. Inspirasi datang dari mana saja! Untuk bersantai, saya biasanya
yoga atau berlari di Central Park,” ungkapnya.

Di kota yang tak pernah tidur tersebut, Emily yang menyebut Paolo Roversi dan Sarah Moon sebagai influens utamanya pun terus mengasah bakatnya dan berfokus pada pemotretan high-fashion dan fine art dengan pendekatan artistik, whimsical, dan romantisme. “Saya selalu berusaha membangun rasa romantisme dan menggugah emosi dengan sentuhan misteri dalam foto saya. Saya suka memotret dengan berbagai medium film yang berbeda untuk menciptakan a sense of timelessness,” aku fotografer yang telah
menggelar tiga kali solo exhibition di NYC dan London tersebut.

Kini selain bekerjasama dengan berbagai label dan para fashion editor, Emily juga memiliki proyek-proyek personal dan memotret public figure. “Saya senang dengan hasil dan proses memotret Melanie karena kami memiliki kesamaan visi dan inspirasi. Dia adalah sosok yang sangat kreatif dan mengapresiasi format film dan Polaroid yang saya pakai di pemotretan ini, dan tentu saja saya juga menyukai gayanya yang unik.”

Stay true to her humble beginning, Emily juga sudah beberapa kali menggelar workshop untuk berbagi aspirasi, skill, dan membangun rasa percaya diri bagi para aspiring photographer yang ingin terjun secara profesional. So, apa tips terbaik yang bisa Emily berikan kepada calon-calon fotografer profesional di mana saja? “Be yourself. Gaya fotografimu harus mencerminkan kepribadianmu dan saya rasa apa yang membuat karier fotografer terasa menyenangkan adalah jika kamu bisa memotret hal-hal yang memang kamu sukai. Cari tahu apa saja yang membuatmu terinspirasi dan pikirkan target yang ingin kamu raih sebagai fotografer. Tentukan tujuanmu dan bekerja keras untuk mencapainya, namun jangan lupa untuk tetap menikmati perjalananmu!”