percolate

By webdev on January 8, 2016

Entah bagaimana mendeskripsikan sekumpulan pekerja kreatif yang tergabung dalam Percolate Galactic ini. But I gotta tell you, they’re mad geniuses and out of this world creative!

Oleh: Vinny Vindiani.

 

Seperti banyak orang yang sekarang tahu tentang mereka, perkenalan pertama saya dengan Percolate Galactic diawali dengan booth mereka yang weirdly artistic yet super cute and eye-catching yang saya temui di sebuah market event Jakarta. Dan saya yakin, banyak yang berpikiran sama, “Siapa sih sebenarnya Percolate Galactic? Kenapa baru kedengaran sekarang?” Pertanyaan itu berujung pada halaman website yang sama uniknya dengan first impression yang saya tangkap sebelumnya. I found out that Percolate Galactic is so much more than just an all-things-quirky store, dan tepat di bulan Oktober kemarin, Nylon mendapat kesempatan bekerjasama dengan Percolate Galactic dalam Nylon Face Off 2016! Need more proof? Check this out

NYLON: Jadi, apa sebetulnya Percolate Galactic?

 

Ryan Jackson, Creative Director: “Percolate Galactic is a global youth creative laboratory. We’re the result of what happens when the young creatures of an entire planet go looking for answers on Tumblr. There are over 6,000 languages on Earth, but most of them are on Facebook. There are hundreds of different faiths, but we all watch Star Wars. The future is here and it’s strange and wonderful and there’s nowhere else we’d rather be… But that’s who we are as a company. As people, we’re a collection of utterly mad creatures just trying to make the world more interesting. We’re obsessed with everything, but chiefly Kanye and Super Nintendo.”

Samantha Jackson, Managing Director: “…Percolate Galactic is all of that, but we’re also an advertising agency. That’s what pays the bills.”

Priamboro Satria Jati ‘P.S. Jati’, Graphic Design Intern: “Gue baru disini 3 bulan dan masih nggak yakin juga mereka ini sebenarnya apaan. Gue rutin dateng karena makanan gratisnya aja sih.”

 

percolate 1

 

NYLON: Bagaimana Percolate Galactic bermula?

 

Ryan: “Samantha and I started Percolate in a spare bedroom in our house in early 2012. We had a ton of ideas, almost zero money, and a recently downloaded copy of Miley Cyrus’ newly released masterpiece ‘Bangerz’. We raised our incredibly small amount of start-up capital through Indiegogo. If all of that sounds vaguely irresponsible and mildly insane, it’s because it actually was.”

Samantha: “In retrospect, we had no business starting a business. Our M.O. (modus operandi), which has served us well, was ‘Fake it ‘til you make it.’ An overinflated sense of confidence and a heaping dose of naivety got us through the first year or so. (Well, that and lots of Indomie.) Sherchle, our head illustrator, has been with us from the very, very beginning. She can attest to the struggle being oh-so-real.”

Michelle ‘Sherchle’ Sherrina, Head Illustrator: “Saat-saat awal bekerja disini tentu sangat menarik karena kita jadi belajar sistem kerja sebagaimana mestinya. Tentu aja banyak moment yang cukup eksperimental dimana kita ngejar-ngejar client buat bayar invoice… or we just fed them to sharks. Hari-hari itu nggak bisa saya lupakan.

Samantha: “For the record, no Percolate clients have been fed to sharks.”

 

percolate 2

 

NYLON: Ryan dan Samantha, kalian berasal dari Amerika. Apa yang membuat kalian memutuskan memulai Percolate di Indonesia?

 

Samantha: “We moved to Indonesia in 2009. By 2012, when we started Percolate, we had settled in. There wasn’t really any question about where we would start Percolate: Indonesia was home, so Percolate was Indonesian. From a strategic standpoint, Indonesia is a huge market with untapped potential and a class of crazy-talented creatives. The opportunities that we’ve been afforded here would be difficult-to-impossible to replicate anywhere else in the world.”

Ryan: “In a weird way, Indonesia is a lot like the United States. We’re both these friendly, slightly disorganized, intensely creative cultures. When you see the amount of newspapers in Indonesia, you barely have to explain why something like content marketing is a winner. No culture on Earth jumps on new social platforms like Indonesians do. Percolate is something that couldn’t happen anywhere other than Indonesia.”

 

percolate 3

 

 

NYLON: Bisa bahas lebih dalam tentang #TeamPercolate? Orang yang seperti apa sih yang bisa gabung ke dalam tim? Gambarkan keseharian kantor kalian juga ya.

 

Teresa Effendi, Digital Strategist:What makes a man a man? Really. Think about it. And if you’ve already figured out the answer, you can easily answer this question too…

Maaf ya ngeselin, hhe. Jawaban serius: Bekerja di Percolate berarti bekerja tanpa beban. Kita nggak harus menjadi orang lain disini. Kami rata-rata nggak peduli dengan seberapa anehnya lo. Malah sebaliknya, lo disini karena lo aneh. Dan kejujuran yang seperti inilah yang akan ngehasilin karya-karya yang berbeda. Nggak ada kepura-puraan, nggak ada pretensi, dan yang pasti nggak ada yang klise disini. Kita berada disini dengan satu tujuan: To slay.”

Deasy ‘Dea’ Camiladini, Head Graphic Designer: “Nggak ada anak-anak Percolate yang liat kerjaan nganggur terus ngomong, “That’s not my job.” Kita bikin dan nyari solusi bareng-bareng, dan brainstorm like our work depends on it – because it does. Desainer kita nulis, penulis kita ngedesain. Kita saling belajar dari satu sama lain dan terus menerus berusaha buat ngembangin, memperluas, dan mempertajam skillset kita. Ini ngebantu kita mencapai titik dimana kerjaan kita ngomong ‘we-do-what-we-love-and-our-clients-pay-us-for-it’. Kita ngobrol, kita nulis, kita ngedengerin musik aneh, kita makan, kita main video games, dan kita ngehabisin waktu bareng. Kita sebenernya sekumpulan orang yang ngehabisin waktu seharian duduk ngelilingin meja besar, sambil nyelesaiin kalimat masing-masing.”

 

percolate 4

 

NYLON: Sejauh apa usaha kalian untuk membuat client kalian happy?

 

Ryan:When it comes to client satisfaction and happiness, being different and weird means that you’ve got an extra level of responsibility. It means that when you say something like ‘Let’s go to a major public event, dress up in Scottish kilts, and challenge the public to games of strength and skill!’, you have to be ready to follow that up with ‘…and this is how doing that was a quantifiably more effective use of your money than paying for an advertorial.’”

Samantha:If we were weird just for the sake of being weird, no one would give us money for that. (At least I hope not.) Does our work skew towards the absurd? Totally — but not without analytics and results to back it up. The surface looks like it’s all fun and games, but there’s a foundation of SRSBSNS underneath.

 

NYLON: Lagi ngerjain proyek apa sekarang?

 

Ryan:Working with the Ismaya Group is probably the most fun anyone can have without a jetpack. We created an illustrated, 40,000-word guide to everything you’d ever want to know about coffee for Djournal, we’ve made beautiful animated pieces for Colette & Lola, and we turned the Pizza e Birra Instagram into a shrine to the glories of the pizza lifestyle. Most companies need convincing to try new things. Ismaya insists on trying new things.

Teresa: “Banyak banget! Sekarang sih gue lagi bolak balik nyeimbangin kerjaan nulis tentang pizza (!!!), brainstorm buat tagline kartu ucapan, nulis konten buat buku resep salah satu chef Jakarta yang sangat menginspirasi, terus yang paling aneh: nulis dan ngasih saran ke remaja cewek padahal gue sendiri belum dewasa-dewasa amat. Dengan topik yang luas mulai dari urusan sekolah, pertemanan, karir dan masa depan sampe urusan putus cinta, periods dan girl gangs. Proyek ini namanya Girl Effect, proyek yang di sponsori oleh The Nike Foundation dengan dukungan Internet.org-nya Facebook. Ngerjain ini rasanya kurang lebih mendekatkan gue ke tujuan gue untuk membuat dunia jadi lebih baik.”

 

NYLON: Apa proyek paling memorable yang kalian kerjakan di Percolate?

 

Sherchle: “Buat saya, setiap proyek yang dikerjakan sejauh ini sih cukup memorable. Salah satu proyek favorit saya adalah kolateral yang kami buat untuk campaign EATJKT 2015 nya Qraved dan proyek internal kami, Pasar Bizarre. Proyek-proyek ini dikerjakan dengan creative process yang bisa dibilang agak mengerikan tapi kalo dilihat-lihat kembali, saya sangat bangga dengan hasil akhirnya.”

Maggie ‘Magz’ Tunggono, Graphic Designer: “Sumpah gue gak bermaksud nge-copy jawaban Sherchle, tapi buat gue proyek paling berkesan ya EATJKT. EATJKT 2015 adalah proyek terbesar yang pernah gue pegang pada saat itu, saat dimana gue lulus kuliah pun belum. (Sejujurnya, gue sampe sekarang masih kuliah, Percolate menerima gue tanpa melihat pengalaman dan ijazah malah mereka mencoba membujuk gue untuk berhenti kuliah aja). Ok, balik lagi ke EATJKT. Untuk proyek itu gue membuat 3 poster ilustrasi berbeda dan salah satunya di cetak di billboard dekat tol Taman Anggrek. Pas pertama kali gue lihat billboard nya, gue bahkan nggak sadar kalo itu ilustrasi buatan gue sendiri. Rasanya kayak jantung gue berhenti sejenak. Mulut gue terbuka besar dan gue nggak percaya apa yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Rasanya sama pas lo pertama kali ngerasain jatuh cinta, tapi bukan cinta sama orang, malahan ke sesuatu yang lo buat dengan usaha lo sendiri. In that moment, I felt like I had really freaking pulled it off. It was an amazing feeling.”

 

NYLON: Apa hal paling menantang dalam pekerjaan ini?

 

Dea: “Beberapa bulan lalu dokter gue bilang kalo gue harus berhenti minum kopi buat 2 bulan. Terus anak-anak kantor ngapain? Mereka terus-terusan bikin new pots of coffee di kantor dong. Sehari bisa lebih dari sekali! Itu nyiksa banget. Gue kaya, ‘SONS OF B*TCHES! STOP TAUNTING ME WITH THE COFFEE.’ …Dan itu hal paling challenging buat gue: nggak bisa minum kopi.”

Magz: “Satu hal yang pasti: there is no black and white in this job. Nggak ada satu hal yang pasti. Pekerjaan yang kita kerjakan dan cara yang kita gunakan akan selalu berubah dan berevolusi. Kalo lo adalah tipe orang bekerja dengan mengandalkan sesuatu yang logis, terstruktur dan sesuai rutinitas, pekerjaan ini bakal buat lo menjadi gila. Untungnya, kita disini adalah sekumpulan orang yang selalu tertarik dengan tantangan. Satu hal yang sangat membuat gue lumayan sakit hati adalah ketika client menolak ide yang kita berikan tanpa mau mengerti lebih lanjut. Kita selalu mikirin setiap ide yang kita buat dengan serius, kalo nggak ya… nggak bakal dipresentasiin ke mereka juga kan? Makanya, sangat mengecewakan kalo client nggak bisa melihat hal yang sama dengan apa kita lihat dalam sebuah ide. Saat client yang berpotensi nggak cukup berani untuk bilang, “Okay, let’s do this!”and ride the rollercoaster with us, semua kerja keras kita ilang aja gitu, menyatu dengan udara dan nggak bersisa.”

 

NYLON: Apa yang membuat kalian terus termotivasi?

 

Sherchle: “Apa yang terus membuat kami termotivasi adalah passion dalam apa yang sedang kami kerjakan; kita suka banget ngebuat hal-hal yang enak dilihat dan juga melontarkan ide-ide yang aneh tapi luar biasa. That, and also the thought of world domination and Shia LaBeouf. Percolate menilai setiap anggota tim dengan seimbang — nggak ada yang lebih berkuasa diatas yang lain. Taller maybe, but not higher. Kami semua disini adalah teman yang bekerja dan bermain bersama seperti orang pada umumnya.”

Samantha: “Impromptu Katamari Damacy tournaments help. Ultimately, we take our work seriously but we don’t take ourselves seriously. We have fun. We take breaks. We keep things in perspective. That’s what keeps us going. That, and a lot of coffee. (Sorry Dea.)”

 

NYLON: Darimana kalian biasa mendapat inspirasi?

 

Dea: “Gue sering nanya diri sendiri, ‘What would Kanye do?’, dan kalo itu nggak ngebantu, gue buka internet, baca buku, dan duduk sendirian sambil mandangin cangkir kopi ketiga gue. Oh, sama to do lists yang Samantha tulis di papan tulis kita. To do list tuh inspiratif banget.

Teresa: “Kanye.”

Ryan:Yes, definitely Kanye.”

Gisella Bianca, Social Media Intern: “Bieber.”

 

NYLON: Boleh jelaskan soal Pasar Bizarre?

 

Teresa: “Pasar Bizarre adalah mimpi buruk seluruh kaum Ibu.”

Ryan:Pasar Bizarre is part of our 20% Time policy. Our team spends 20% of the week developing some of the ideas that bounce around the room but might not be right for our clients. Pasar Bizarre was the first big thing to come out of our 20% Time — an outlet for our strange and savage ideas regarding retail. Coming soon: a few new apps and a boutique publishing press. We have to keep moving, not unlike an ill-tempered shark, or the bus in the movie Speed.

Samantha:Some 20% Time projects are solo (like Sherchle’s ‘Legends of Lucha Libra’ tarot series) and some are collaborative works (like the ‘Life of a Semi-Functioning Adult’ colortivity book created by Teresa and Magz). The most recent round of projects to come to fruition skewed heavily to the fantastic and absurd. The projects that Percolate team members are currently working on have been heavily influenced by the internet, pop culture, memes, and linguistic trends.

 

NYLON: Kalo kalian punya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang beda total. Apa yang ingin kalian lakukan?

 

Dea: “Nari ballet sama tembak-tembakan.”

Samantha: “At the same time?”

Dea: “Iya lah.”

 

NYLON: Ok, pertanyaan terakhir… Gambarkan Percolate Galactic dalam 3 kata.

 

Ryan: “Game changing centaur.”

Teresa: “IDK.”