atreyu banner

By webdev on December 8, 2015

Berangkat dari imajinasi masa kecil, energi kreativitas yang seolah tanpa batas dalam diri seorangmulti-hyphenateAtreyu Moniaga dengan leluasa melintasi berbagai medium. Dari kanvas hingga ke Cannes.

Di usia yang masih terbilang mudadan dengan wajah yang seolah berhenti di umur belasan, mungkin kamu tidak akan menyangka jika Atreyu Moniaga telah mengantungi lebih banyak profesi dari mayoritas orang. A multi-hyphenate, I dare say. Secara ringkas, istilah multi-hyphenate mengacu kepada seseorang yang memiliki beberapa profesi atau bakat sekaligus. Katakanlah seorang singer-songwriter, model merangkap aktris, atau dalam kasus Atreyu: ilustrator, fotografer, dosen, dan baru-baru ini, an actor.

atreyu 1

Lulusan IKJ kelahiran 9 Desember 1988 tersebut pertama kali mencuat lewat karya-karya ilustrasi berbasis cat air dengan nuansawhimsical dan dreamy yang terinfluens dari cerita fantasi yang ia lahap dari kecil. Tak berhenti di atas kanvas, pria yang dikenal dengan nickname Atreist dalam sirkuit desain dan seni ini terus mengeksplor berbagai medium dan terlibat di banyak pameran dan project menarik, termasuk salah satunya mendesain embroidery yang menjadi bagian dalam koleksi “Melange De Sens” karya fashion designerSebastian Gunawan tahun lalu. Di samping ilustrasi, ia pun mewujudkan imajinasinya dalam bentuk fotografi yang walaupun terasa jauh lebih grim bila dibandingkan ilustrasi penuh warna miliknya, namun tetap menunjukkan elemensurreal yang selama ini menjadi ciri khasnya. Seolah tak kehabisan energi, hari-harinya juga disibukkan dengan menjadi dosen fotografi dan ilustrasi di Universitas Bunda Mulia dan tahun ini ia juga menambah resumenya dengan berakting dalam film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might garapan Lucky Kuswandi.

atreyu 2atreyu 3

Dalam debut akting di film pendek berdurasi 25 menit tersebut, Atreyu berperan sebagai Aseng, seorang remaja Tionghoa di sebuah kota kecil yang dekat dengan basis militer di era Orde Baru yang represif. Sarat oleh isu rasial, opresi, dan percikan seksualitas, film ini berhasil terpilih untuk ditayangkan dalam programSemaine de La Critique (Pekan Kritikus) di Festival Film Cannes tahun ini, sekaligus menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam ajang tersebut setelah film Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot di tahun 1989. Sebuah langkah awal yang impresif bagi seseorang yang tidak pernah berakting sebelumnya. Dengan begitu banyak sisi yang menggoda untuk dibicarakan, Atreyu pun menuturkan beberapa fragmen dalam dirinya.

atreyu 4

Oleh: Alexander Kusuma Praja. Foto oleh: Kevin Leovir.