NYLON_ARTATTACK_nengiren

By webdev on March 17, 2015

“Seorang perempuan yang suka bermimpi,” jawab desainer grafis dan ilustrator Irene Saputra saat mendeskripsikan dirinya. Berawal dengan kemunculannya di news feed Instagram saya dengan karya-karya identiknya yaitu sosok wanita yang sebagian besar berekspresi datar dan memandang lekat pada siapapun yang melihatnya, hiasan yang terkesan feminine dengan bunga-bunga, serta gabungan warna monochrome dan popping colors yang manis menghias secarik kertas putih, hingga kesediaannya mengkontribusikan karya yang dibuat secara spesial untuk NYLON sebagai cover culture club edisi ini, let’s find out the story behind all that deep stares and beautiful faces inside the papers.

irene saputra

Sejak kapan kamu tertarik dengan dunia seni dan mulai serius menggelutinya?

Dari kecil memang suka ngeliat buku cerita, ngayal tentang ceritanya dan suka corat-coret sambil ngomong sendiri. Semakin kepancing waktu kuliah desain dan kerja di majalah Concept, banyak ketemu mentor dan teman-teman inspiratif, tapi masih belum menggambar, Sampai pada tahun 2011 dengan kebiasaan baru: menggambar sebelum tidur, dan itu saya lakukan intens, setiap hari, dalam waktu yang cukup lama. Dari situ, saya menemukan bahwa menggambar itu seperti proses meditasi, seperti berkomunikasi dengan diri sendiri, mendengarkan diri sendiri, dan akhirnya proses inilah yang mengantarkan saya pada satu dunia baru: ilustrasi!

 

Speciality kamu dan how do you describe your style?

Paling susah untuk mendescribe style gambar saya, karena saya nggak pernah terpatok di satu gaya atau teknik tertentu. Saya hanya melakukan apa yang saya ingin lakukan, terkadang nggak pernah tau mau gambar apa, tapi dari proses ‘tersesat’ itulah yang bikin karyanya begitu. Tapi, banyak yang bilang bilang karya saya itu sendu, dan itu ciri dari karya saya, haha!

 

Kalau dilihat dari lukisan kamu yang biasanya berupa wajah wanita, any story behind it?

Buat saya, menggambar perempuan selalu menarik. Saya bisa bereksperimen dan bermain banyak hal di sosok perempuan. Wajahnya, pattern bajunya atau bermain-main dengan rambutnya. Lebih mudah untuk saya mendapat ‘koneksi batin’ dengan sosok perempuan yang saya gambar.

 

Who’s your fave artist?

Sebenernya banyak banget, dari kumpulan teman pun nggak terhitung banyaknya. Tapi kalau boleh ditarik mundur, pertama kali saya tertegun melihat sebuah karya ilustrasi milik James Jean, Audrey Kawasaki, Julie Verhoeven dan Miss Van. Saya selalu suka dengan karya dreamy, yang selalu bisa membuat saya cukup lama terdiam dan terpancing untuk berkhayal bersama karya mereka.

 

Selain karya lukis, ada hal lain yang ingin kamu pelajari lebih dalam?

Penasaran banget sama tiga hal, pengen banget ikutan pottery class nya Ayu Larasati, belajar weaving dan masak!

 

Lagi merambah ke embroidery juga ya?

Sebenarnya suka menyulam itu juga dari kecil. Nenek yang ngajarin, karena di sekolah dulu seringnya ada tugas bikin prakarya ini itu, salah satunya menyulam. Mulai intense lagi sekitar tahun kemarin, ada salah satu karya saya yang saya buat menjadi embroidery, dan saya menikmati prosesnya. Sejak itu, saya jadi kecanduan!

 

Memorable project?

Yang paling saya ingat mungkin pertama kalinya karya saya terpublish bersama beberapa ilustrator lokal idola saya di edisi ulang tahun sebuah majalah kenamaan, lalu ajakan Nike Indonesia, untuk meng-custom sepatu yang akan diberikan sebagai tanda mata untuk Allyson Felix ketika Ia datang ke Jakarta. Priceless!

 

Menurut kamu pengaruh penggunaan Instagram/behance bisa menggeser pemikiran artist untuk membuat pameran tunggal kah?

Buat saya, pameran baik tunggal maupun bersama, itu seperti ajang kita memamerkan/memperkenalkan karya kita ke khalayak umum. Ada interaksi langsung antara kita, karya kita dan audience. Experience seperti itu nggak akan bisa didapat di media sosial manapun.

 

Future plan?

Punya studio dan workshop yang lebih proper.

 

Describe yourself in one sentence.

“Seorang perempuan yang suka bermimpi.”

 

http://instagram.com/nengiren