fbudicover

By Anindya Devy on February 25, 2015

Staying true to herself adalah kunci kesuksesan dalam menciptakan sebuah karya indah dan penuh estetika bagi Felicia Budi. Melalui fbudi, Ia pun menghadirkan karya yang penuh dengan eksplorasi material yang sederhana dan sekaligus rumit.

fbudi inside

Ceritakan sedikit mengenai fbudi, siapa saja yang dibelakangnya?

fbudi saya dirikan di akhir tahun 2010 dan saat ini mempunyai 5 pekerja tetap.

Konsep dan inspirasi untuk brand ini?

fbudi saya dirikan setelah masa kerja saya di BIN House. Sedikit banyak saya ingin membawa tradisi jahitan tangan kita ke arah modern.

Latar belakang pendidikan Felicia?

FdA FDT Designer Pattern Cutter di London College of Fashion, lulus 2006.

Apa ciri khas desain fbudi?

Pengolahan material dan detil jahitan tangan.

Proses menentukan tema untuk setiap musimnya gimana?

Seringkali saya mendapatkan tema di tengah saya mengeksplorasi suatu material. Saya tidak bekerja dengan menentukan tema lalu membuat koleksi. Biasanya tema itu tercipta dari kumpulan karya yg sedang saya kerjakan.

Ada desainer/brand luar yang kamu jadikan inspirasi atau favorit?

Yohji Yamamoto, Martin Margiela.

Menurut kamu secara spesifik pengguna fbudi itu siapa?

Seseorang yang berwawasan luas, menghargai seni dan mengenal dirinya sendiri.

Dengan banyaknya label lokal sekarang ini, siasat kalian untuk keep up dengan persaingannya bagaimana?

Selalu bergerak maju tapi tetap konsisten dengan ciri fbudi yang unik.

Target berikutnya apa, secara segi desain dan penjualan?

Desain fbudi akan lebih memikirkan sisi sustainable, selain sisi estetika. Target berikut dari sisi penjualan adalah penambahan stockist di Indonesia dan internasional.

Masih ingat siapa yang pertama kali beli koleksi kamu, dan item apa yang dibeli?

Teman baik saya yg membeli atasan merah dengan detail aplikasi chiffon lipit.

Sebutkan dalam 3 kata yang dapat menjelaskan fbudi:

Intelektual, karya tangan, eksplorasi material.

Dengan hasil desain fbudi yang intricate, berapa lama proses pengerjaan sebuah item?

Berbulan-bulan, kadang setahun. Terkadang yang lama ada pada proses eksplorasi bahan. Setelah berhasil menemukan yang dicari, proses produksinya sendiri tidak selama itu.

Apa yang ada di kepala kamu ketika memikirkan konsep koleksi yang terakhir? Dan bagaimana cara kamu supaya ada kontinuiti dari setiap koleksi?

Di koleksi terakhir berjudul ‘PERSEGI’, saya mencoba membuat pakaian yang sesuai dengan bentuk badan dari selembar kain kotak. Saya menggunakan geometri untuk mendapatkan hasil yang saya inginkan. Supaya ada kontinuiti antar koleksi, saya hanya perlu tetap menjadi diri saya.

Aku masih ingat koleksi kamu yang ada black dustballs dari film Totoro. Melihat dari koleksi waktu itu dan koleksi yang sekarang cukup berubah banyak ya. Bagaimana proses kamu menemukan formula konsep yang sekarang ini?

Koleksi dahulu berjudul ‘Come Closer and See The Inner Me’ adalah proyek kolaborasi dengan teman tekstil saya, Kristine Hakim. Sebetulnya inti pengolahan bahan dan detil jahitan tangan masih sama, hanya saja tampilannya berbeda karena koleksi yang sekarang adalah murni fbudi dan bukan kolaborasi.

Bagaimana ceritanya kamu bisa bekerja di BIN house? Ada pengalaman yang sangat berkesan selama kerja disana? Ilmu apa aja yang didapat disana?

Saya pertama kali mendengar BIN House dari seorang teman saya. Dia berkata bahwa BIN House itu saya banget. Ketika saya mampir ke tokonya tidak lama setelah pulang ke Indonesia, saya langsung jatuh cinta dan menawarkan diri untuk bekerja di sana. Diterima, saya langsung dengan semangat memulai pekerjaan. Saya belajar banyak sekali hal di sana, terutama mengenai tekstil Indonesia. Pengalaman yang sangat berkesan adalah mengenal orang-orang / artisan-artisan yang ada di balik BIN House.